Waah, Radio Kuno dan Gramaphone Berusia Ratusan Tahun Ada Di Malang !

573
Media Malang – Di jaman era digital  elektronik,radio kuno berbentuk tabung dan gramaphone yang identitasnya lazim ditemukan di film-film tempo doloe ternyata sampai saat ini masih diminati sejumlah orang. Selain bentuknya antik dan klasik,radio tabung dan gramaphone  juga bernilai jual tinggi.
Radio-radio kuno dan gramaphone tersebut dikoleksi Muhammad Cholil warga jalan Ir. Rais gang 14 nomer 60 A Kecamatan Mergan Kota Malang. Puluhan radio kuno dan gramaphone berbagai macam merk, nampak tertata rapi di gallery rumahnya.
Pria yang akrab dipanggil Bang Ho ini mengatakan kedua alat elektronik kuno hasil koleksinya  rata-rata berusia ratusan tahun. Berbagai jenis dan merk radio dan gramaphone seluruhnya berasal dari luar negeri, diantaranya radio Katedral buatan Amerika tahun 1883 dan radio merk Philips  Bi Ampli, radio Zenith, Nord Mende dan Tesla buatan Belanda , Jerman, dan Chekoslavia pada tahun 1933 sampai 1938.
 “Meski berusia udzur barang-barangnya masih berfungsi dengan baik, kondisinya juga terlihat masih utuh,serta mengeluarkan suara yang jernih,” katanya saat bersama mediamalang.com.
Gramaphone misalnya alat elektronik yang terbuat dari Amerika sejak tahun 1917 ini biasanya digunakan untuk merekam dan memutar lagu masa lalu dengan menggunakan piringan hitam.
Menurut Cholil, agar bisa memutar piringan hitam, caranya pun unik. Pertama – tama kita harus memutar engkel yang ada di samping kotak gramaphone. Selanjutnya, piringan hitam ditempelkan ke jarum gramaphone.
“Jika piringan hitam sudah berputar, corong gramaphone mengeluarkan  bunyi suara lagu-lagu klasik nan romantis. Hanya saja lagunya beredar di jaman sebelum kemerdekaan republik Indonesia,”paparnya.
Pria berusia 45 tahun yang berprofesi sebagai wartawan media cetak di sebuah surat kabar di Jawa Timur ini mengaku tertarik dengan radio kuno sejak tahun 1990 berawal dari keprihatinannya setelah melihat radio dan barang-barang elektronik kuno yang dimiliki keluarganya tidak terawat dan dibiarkan saja menjadi barang sampah rumah tangga. Padahal , barang-barang elektronik  tersebut mempunyai nilai sejarah tinggi sehingga ia berinisiatif untuk melestarikan dengan berburu alat elektronik kuno tersebut.
”Saya lihat kok ada barang-barang lama punya nenek, kebetulan ada radio dan beberapa jenis barang elektronik yang gak terawat. Lha dari situlah saya merasa tertarik dan ingin melestarikan,” akunya.
 Kata Cholil, untuk berburu barang antik tersebut tidaklah mudah. Selain, harus menemui dan belajar ke teman-temannya yang berprofesi sebagai kolektor elektronika, dia harus mempunyai jaringan yang luas baik di dalam negeri maupun luar negeri, dan yang paling utama adalah menyiapkan uang untuk modal membeli barang-barang elektronik kuno tersebut.
“Agar bisa mendapatkan barang elektronik berusia tua ini,saya harus merogoh uang saku sampai puluhan juta rupiah. Rata-rata harga satu barang elektronik yang dimilikinya berkisar mulai dari satu juta rupiah sampai  16 juta rupiah,” ujarnya.
Selain radio dan gramaphone, Cholil  juga mempunyai koleksi alat musik jenis phonograph yang harganya sangat mahal mencapai Rp. 35 juta sampai Rp. 75 juta seperti Phonograp merk Pate Veres buatan Perancis tahun 1885 yang diciptakan Thomas Alfa Edison.
Menurut Cholil, mengoleksi barang-barang elektronik kuno ini tidak mudah dan dibutuhkan ketelatenan dan perawatan khusus. Setiap hari, ia selalu menyempatkan diri membersihkan dan merawatnya. Jika ada yang rusak, tak segan-segan ia langsung menservisnya.
Bagi Cholil , mengoleksi  gramaphone dan radio kuno ini mempunyai kesan tersendiri dan mewarnai kehidupannya.”Bukan karena harganya yang mahal,tapi nilai  seni dan sejarahnya,” tutupnya.
Naah…sekarang bagaimanakah dengan anda, apakah anda juga tertarik mengoleksi  barang-barang elektronik kuno seperti Cholil ?
 
Pengirim : Dix’s Fibriant

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.