Viewed 90 Times

Trik Agar Tetap Aman Saat Ber-“Selfie”

0

MEDIA MALANG – “Selfie” bisa dilakukan sendiri, bisa juga beramai-ramai dengan mengambil tempat yang punya pemandangan indah. Selfie juga dikenal dengan sebutan swafoto yakni satu cara untuk mendokumentasikan perjalanan berlibur.

Baru-baru ini terjadi kejadian naas yang menimpa wisatawan saat berlibur di pantai akibat selfie. Dua orang hilang tewas terseret ombak saat melakukan swafoto atau selfie di Pantai Kedung Tumpang di Desa Pucanglaban, Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur, Kamis (5/5/2016) sekitar pukul 11.00 WIB.

Niat awal berfoto selfie dan berujung maut juga banyak tercatat terjadi di Indonesia atau belahan dunia. Kasus ini bisa menjadi tamparan keras bagi wisatawan yang ingin mengambil foto selfie di lokasi wisata agar lebih berhati-hati.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau agar selalu berhati-hati dan memperhatikan kondisi sekitar saat berwisata di pantai.

Disarankan untuk tidak berenang terlalu jauh di laut dan saat ombak besar sebaiknya tidak melakukan aktivitas di laut. Wisatawan juga diimbau untuk mengikuti semua arahan dan rambu-rambu yang ada di obyek wisata. Jangan remehkan kegiatan swafoto ini. Risiko keamanan berswafoto bahkan bisa disamakan dengan kegiatan pendakian gunung.

Dalam buku “Mountaineering: The Freedom of The Hills (2010)” tertulis: “Sebuah strategi yang baik untuk pendakian yang aman memiliki tujuan pertama yaitu kembali ke rumah dengan selamat…”.

Walaupun untuk mendaki gunung, kutipan tersebut masih relevan dengan tujuan ber-selfie ria. KompasTravel merangkum beberapa tips penting berdasarkan buku tersebut terkait perencanaan kegiatan ber-selfie agar tetap aman.

1. Penilaian terhadap bahaya
Seperti mendaki gunung, selfie juga merupakan kegiatan berisiko bahaya. Hal terpenting sebelum melakukan selfie adalah menilai potensi bahaya yang terjadi di tempat Anda ingin selfie.

Bahaya tersebut misal terbagi dua seperti bahaya obyektif dari tempat ber-selfie dan bahaya subyektif dari diri sendiri.

Bahaya obyektif bisa berbentuk tempat yang rawan ombak besar, rawan terjatuh di jurang, bisa terjatuh ke kawah gunung berapi, terpeleset karena tanah yang dipijak longsor, tiupan angin, dan bahaya lain.

Sedangkan, bahaya subyektif bisa berbentuk ceroboh saat ber-selfie, mengantuk saat selfie, atau pijakan kaki tak kuat. Sebaiknya sebelum selfie di tempat wisata, pertimbangkanlah keamanan berdasarkan bahaya yang telah dikenali.

2. Belajar dari pengalaman
Berbagai pengalaman buruk dalam kasus selfie banyak terjadi. Media sosial atau media massa juga telah mengulas kejadian tersebut.

Belajar dari kesalahan yang terjadi berdasarkan pengalaman orang maupun pengalaman pribadi adalah hal yang bisa dipelajari agar berfoto selfie tetap aman. Belajar dari pengalaman adalah salah satu cara belajar terbaik.

Ketahui penyebab kecelakaan dalam berfoto selfie
Di buku “Freedom of Hill”, mengetahui penyebab kecelakaan dalam mendaki gunung adalah salah satu cara pembelajaran. Hal itu juga berlaku untuk kegiatan berfoto selfie.

Belajar dari faktor-faktor kecelakaan saat ber-selfie bisa membuat waspada ketika melakukan selfie. Misalnya mengetahui kecelakaan sebelumnya karena ombak besar, berarti saat berada di tepi laut yang berombak besar, diperlukan kewaspadaan tinggi untuk ber-selfie.
Pahami risiko

Risiko yang dapat diterima adalah hal yang sulit untuk diukur. Setiap pendaki memiliki tingkat risiko yang berbeda. Begitu juga orang-orang yang melakukan selfie.

Ketahui kemampuan untuk melakukan selfie apalagi di tempat yang berbahaya seperti puncak gunung, di atas gedung, atau di laut. Setiap tempat selfie juga memiliki resiko yang berbeda-beda.

3. Perencanaan berfoto selfie
Sama seperti mendaki gunung, berfoto selfie juga memerlukan perencanaan. Mulai dari keadaan obyek wisata yang dikunjungi, cara mengambil foto selfie yang aman, dan juga kebutuhan perlengkapan untuk selfie.

Perencanaan akan membuat segala sesuatu yang dilakukan akan berjalan dengan aman dan nyaman. Walaupun terkadang beberapa hal terjadi di luar perencanaan, itu bisa ikut diprediksi dalam proses perencanaan.

4. Pengambilan keputusan yang baik
Pengambilan keputusan yang baik adalah kunci sukses dalam pendakian gunung. Sama seperti mengambil foto selfie.

Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan ketika mendaki gunung adalah proses riset, perencanaan yang matang, tim pendakian, pemilihan rute pendakian yang baik, pengetahuan teknis mendaki gunung, cuaca baik, stamina prima, dan efisiensi waktu.

Ambil keputusan yang baik berdasarkan perencanaan berfoto selfie yang telah dibuat. Ukur kemampuan yang dimiliki sebelum melakukan foto selfie.

5. Tetap waspada
Sama seperti mendaki gunung, membuat foto selfie juga memerlukan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi. Perubahan kondisi dalam perencanaan foto selfie seperti mengalami luka, hujan, kehilangan peralatan, kondisi tempat berfoto yang berubah, cuaca buruk, kelelahan atau cedera, dan segala potensi bahaya yang dapat menjadikan kecelakaan. (*)

Editor   : Puspito Hadi

Sumber : kompas.com

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.