Viewed 312 Times

TKW Bantur, Dikabarkan Tewas Dibunuh di Hongkong

0

MEDIA MALANG– Wiji Astutik (37), Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Dusun Krajan RT 04/RW01 Desa Wonokerto, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, dikabarkan tewas di Hongkong.

Tragisnya, Wiji diduga kuat menjadi korban pembunuhan. Saat ditemukan jasadnya digulung kasur dan dibuang depan toko di kawasan Mong Kok, Senin (8/6/2015).

Ditemukan juga ada luka tusukan senjata tajam di tubuhnya. “Ada kabar begitu, jelasnya kami belum tahu,” ujar Kasi Penempatan TKI Disnakertrans Kabupaten Malang Sukardi kepada wartawan, hari ini.

Sukardi mengaku, tengah menunggu keterangan resmi KJRI atau BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) mengenai kematian Wiji. “Kami juga belum kroscek kepada pihak keluarga,” aku dia.

Informasi yang didapatkan, Wiji berangkat pada 2007 sebagai TKW. Dia berangkat lewat PPTKIS (Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta) yang ada di Kota Malang.

“Berangkat pakai Tritama Bina Karya berkantor di Malang,” ungkap Sukardi.
Terpisah Kades Wonokerto Ali Mas’ud membenarkan Wiji Astutik adalah warganya yang menjadi korban pembunuhan di Hongkong.

“Ini informasi yang kami dapatkan dari keluarga,” ujar Ali dikonfirmasi terpisah.

Menurut Ali, selama ini korban tidak pernah diketahui pulang ke kampung halaman, selama bekerja di luar negeri.

Sebelum ke Hongkong, ia tinggal ayahnya, Supardi. Sedang suaminya sudah meninggal. Wiji juga sudah punya anak yang masih bersekolah di desanya.

“Dari keluarganya sudah pasrah apakah nanti jenazah anaknya bisa dikembalikan ke Bantur untuk dikubur disini (Bantur) atau disana (Hongkong),” jelasnya.

Kepasrahan itu karena alasan keterbatasan biaya. Sikap pemerintah desanya akan membantu keluarga itu untuk berkoodinasi dengan Disnakers namun masih menunggu keterangan resmi dari Hongkong.

“Informasi yang diterima keluarganya kan belum resmi,” jawab Ali. Jika sudah ada kejelasan, maka akan dibantu, termasuk menanyakan ke PPTKIS yang pernah memberangkatkan dulu.

Ditambahkan Sukardi, biasanya kontrak kerja di luar negeri selama dua tahun, kemudian pulang dan memperpanjang lagi.

Wiji diberitakan di Hongkong dengan status overstayer dan hanya memegang ‘paper’ dari pengadilan setempat.

Namun ia tidak boleh bekerja karena tidak memiliki visa pekerja. Wiji dan pacarnya yang kabarnya dari Asia Tengah informasinya tinggal di teras terbuka di apartemen tua di lantai pertama, kumuh dan tanpa atap.

 

Penulis : Camaraderry Difa Pradana
Editor : Putra Ismail

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.