Sutopo BNPB Impikan Bisa Bersalaman dengan Presiden Jokowi

0

JAKARTA, MEDIAMALANG.COM – Hashtag #RaisaMeetSutopo sedang bergema di Twitter. Netizen riuh menyuarakan agar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Kapusdatin Humas BNPB) sekaligus penyintas kanker Sutopo Purwo Nugroho bisa bertemu dengan idolanya, penyanyi Raisa Andriana. Namun tak banyak yang tahu, Sutopo pun sudah lama berharap bisa bertemu dan bersalaman dengan Jokowi.

Cerita ini disampaikan Sutopo kepada detikcom di sebuah malam di awal Februari 2018, belum lama setelah dirinya divonis dokter mengidap kanker paru stadium IVb. Setelah menjawab sejumlah pertanyaan detikcom soal bencana lewat WhatsApp, Sutopo tiba-tiba melempar curhat.

Sutopo mengatakan banyak orang yang beruntung bisa bersalaman dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia kemudian membuat pengakuan, selama bekerja di BNPB sejak Agustus 2010 hingga menjabat Kapusdatin Humas BNPB, dirinya belum pernah sekali pun berjabat tangan dengan Jokowi. Terdengar biasa saja, tapi itu sesuatu yang diharapkannya.

“Saya belum pernah punya kesempatan berjabat tangan dengan Pak Jokowi. Meski saat menangani bencana longsor Banjarnegara, gempa Pidie Jaya, kebakaran hutan dan lahan, erupsi Gunung Agung, dan lainnya, saya tidak bisa salaman karena tidak bisa masuk,” ujar Sutopo.

Sutopo mengisahkan, dirinya dulu pernah punya beberapa kesempatan bersalaman dengan Jokowi, namun tak kesampaian karena Jokowi dikawal Paspampres.

“Jadi saya suka lihat dari jauh saja. Saat masyarakat berebutan salaman, saya tidak mau ikut-ikutan, saya tahu diri,” ucapnya. Meski demikian, Sutopo mengaku sedikit pun tidak merasa kecewa, apalagi marah terhadap Paspampres yang menghalaunya. Sutopo maklum Paspampres sedang menjalankan tugas dan kewajibannya.

“Paspampres yang muda-muda banyak yang nggak kenal saya. Padahal saya dosen Sesko TNI. Tapi sama prajurit tidak dikenal, ha-ha-ha…,” seloroh Sutopo.

Sutopo mengakui secara pribadi memang mengagumi Jokowi. Karena itu, dia selalu berharap suatu saat bisa bersalaman dan berfoto dengan orang nomor satu di Indonesia itu.

“Saya salah satu pengagum Pak Jokowi. Sesama alumni UGM (Universitas Gadjah Mada). Saya kagum atas gaya kepemimpinan beliau sejak jadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI, dan Presiden sekarang. Beliau selalu berpikir diferensiasi. Mencari yang berbeda,” ujarnya.

Menurut Sutopo, sebenarnya bisa-bisa saja dia secara khusus meminta kesempatan kepada orang-orang di lingkar Istana untuk bisa sekadar bersalaman dengan Jokowi. Namun, itu tak dilakukannya karena sungkan. Meski demikian, Sutopo berharap suatu saat keinginannya ini bisa terwujud di tengah-tengah segudang kesibukan Jokowi.

“Saya dengan Pak Teten, Pak Bey, Pak Ari Dwipayana kenal baik. Tapi dengan Pak Jokowi malah belum pernah dekat. Kalau dengan Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) saya pernah salaman, malah pernah menjelaskan bencana. Difoto bareng (dengan SBY), dipajang di rumah bapak saya di kampung Boyolali. Senangnya minta ampun,” ucapnya.

Ditanya soal riuhnya hashtag #RaisaMeetSutopo di Twitter, Sutopo tertawa. Dia mengatakan tak menyangka respons yang dia terima saat me-mention nama Raisa akan sebanyak itu. Dia pun senang Raisa juga ikut merespons. Siang tadi dia bahkan sempat melakukan video call dengan Raisa seusai jumpa pers soal penanganan bencana di Sulawesi Tengah.

“Nanti kalau mau Raisa tak tawari jadi Duta Bencana,” ucapnya seraya terkekeh.

Terkait penyakitnya, Sutopo divonis kanker pada pertengahan Januari 2018. Dokter menyebut sel kanker sudah menyebar ke tulang dan kelenjar getah bening. Meski awalnya sempat merasa terpukul, Sutopo akhirnya tabah menerima apa yang disebutnya ujian dari Allah tersebut. Kini setiap hari dirinya berjuang melawan rasa sakit untuk bisa sembuh.

Sutopo pun berupaya sembuh dengan menjalani pengobatan di rumah sakit hingga mengkonsumsi obat-obatan herbal. Awal berobat ke rumah sakit, Sutopo harus menjalani kemoterapi dan radioterapi (penyinaran) untuk membunuh sel kanker. Menurutnya, proses pengobatan ini sangatlah menyakitkan.

Sutopo mengaku sempat drop saat awal menjalani radioterapi dan kemoterapi. Dia tidak sanggup karena mengalami mual, muntah, pusing, hingga sesak napas. Berat badannya juga turun karena makanan yang dikonsumsinya selalu dimuntahkan.

Dari sejumlah rumah sakit, Sutopo kini rutin menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Di rumah sakit ini, menurutnya, ada metode TACI (Trans Arterial Chemo Infusion). Kemoterapi yang dijalaninya hanya di sumber sel kanker, sehingga sel baik dalam tubuhnya tidak ikut terkena. Meski begitu, menurutnya, tetap saja proses ini menyakitkan.

“Setiap hari saya diradiasi. Efek radiasi dan kemoterapi memang membuat badan tidak nyaman. Mual, muntah, pusing, lemas, sesak napas, dan tidak nafsu makan. Tapi semua harus dijalani,” ucapnya.

Meski setiap hari harus menjalani pengobatan di rumah sakit, Sutopo masih tetap beraktivitas ke kantor. Dia juga tetap mengajar dan ceramah di seminar-seminar meski dengan waktu yang terbatas. Dia mengaku kuat menjalani kehidupan karena didukung pimpinan dan rekan-rekannya di lingkungan BNPB.

Sebagai Kapusdatin Humas BNPB, Sutopo juga tetap melayani permintaan media. Dia tetap berupaya aktif menjawab pertanyaan dan mengirimkan rilis. Menurutnya, kegiatan ini membantunya tetap aktif. Sebab, jika hanya diam, rasa sakit di tubuhnya akibat kanker akan makin terasa. Dia berupaya terus mengalihkan rasa sakit itu dengan berbagai hal, termasuk dengan bekerja.

“Saya tetap melayani media. Menjawab pertanyaan. Membuat dan mengirimkan rilis. Kalau saya hanya diam, sakitnya makin terasa. Jadi saya alihkan dengan sesuatu hal. Kita itu harus bekerja dengan hati. Apalagi sebagai pejabat, kita harus melayani masyarakat,” ucapnya.

Sutopo mengatakan, divonis mengidap kanker paru stadium IVb memang menakutkan. Meski begitu, dia pasrah kepada Allah dalam menghadapi penyakitnya ini. Dia tidak mau menggugat kenapa dirinya yang tidak merokok bisa kena kanker paru, apalagi menurutnya keturunan bapak dan ibunya juga tidak ada yang pernah divonis kanker.

Bagi Sutopo, kenyataannya, dirinya mengidap kanker paru. Bagaimana bisa sembuh dan pulih kembali, itu yang harus dia jalani. Ini semua dia lakukan terutama untuk istri dan kedua orang anaknya.

“Banyak orang yang menderita kanker bisa sembuh. Banyak juga yang meninggal dunia. Itu semua hanya Tuhan yang tahu,” ucapnya.

Setiap salat, lanjut Sutopo, dirinya berdoa agar dosa-dosanya dimaafkan, disembuhkan penyakitnya, dan diberi kesehatan oleh Allah. Sutopo berharap usianya dipanjangkan agar bisa lebih baik beribadah, melayani masyarakat, dan membantu sesama. Sutopo juga mendoakan agar istri, anak-anak, dan keluarganya selalu diberi kesehatan dan kekuatan mendampingi dirinya sebagai seorang survivor kanker.

“Pengobatan sakit kanker perlu waktu yang panjang. Perlu biaya, tenaga, waktu, dan kesabaran yang panjang. Ibarat lari maraton, saya baru start. Perlu dukungan dan semangat terus. Soal hasil akhir, saya serahkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” imbuhnya.

Ditambahkan Sutopo, dirinya mengingatkan agar masyarakat mengambil pelajaran dari penyakit kanker paru yang dideritanya. Pola hidup sehat harus diterapkan agar terhindar dari penyakit.

“Ternyata sehat itu mahal. Sehat itu ternyata segalanya. Saya baru tahu setelah merasakan sakit begini. Hindari makan-makanan yang tidak sehat. Berpikir positif dan selalu ingat anak-anak yang masih butuh kita,” ucapnya.

Dr Sutopo Purwo Nugroho, MSi, APU, lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 7 Oktober 1969. Dia adalah putra pertama pasangan Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari. Sutopo menikah dengan Retno Utami Yulianingsih. Mereka dikaruniai dua orang putra, yaitu Muhammad Ivanka Rizaldy Nugroho dan Muhammad Aufa Wikantyasa Nugroho.

Sutopo menyelesaikan kuliah di Fakultas Geografi, Jurusan Geografi Fisik, Program Studi Hidrologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1994. Dia meraih gelar MSc dan PhD di Institut Pertanian Bogor (IPB). Penelitian utamanya di bidang hidrologi dan konservasi tanah dan air.

Mantan peneliti utama di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini bekerja di BNPB sejak Agustus 2010 hingga sekarang menjabat Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB. Dia juga mengajar pascasarjana di IPB, Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Pertahanan.

Dia telah menghasilkan 11 jurnal ilmiah internasional, 100 jurnal ilmiah nasional, berbagai artikel ilmiah di media massa, serta berbagai buku atau bagian dari buku yang diterbitkan di tingkat nasional. (*)

Editor : Puspito Hadi

Sumber : detik.com

Comments are closed.