Viewed 445 Times

Saudara Kembar Yuyun Disekolahkan Mensos di Ponpes Malang

0

MEDIA MALANG – Sudara kembar Yuyun, korban pemerkosaan dan pembunuhan di Bengkulu, direncanakan akan bersekolah di salah satu pondok pesantren di Kota Malang, Jawa Timur. Ajakan itu diungkapkan oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Ajakan tersebut membuat orangtua Yuyun bahagia dan merestuinya. Pasalnya, menyekolah anak ke pondok pesantren itu adalah cita-citanya dari dahulu. Yayan sendiri akan dibawa ke Malang setelah 40 hari kepergian saudara kembarnya.

“Saudara kembar Yuyun akan saya sekolahkan di Pesantren Malang. Dan itu sudah direstui oleh ibu dan ayahnya,” kata Khofifah saat berkunjung ke rumah orangtua Yuyun, di Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, Jumat (6/5/2016).

Sementara itu, Yana, ibu Yuyun dan Yayan mengatakan, melanjutkan pendidikan anaknya ke pesantren sudah dicita-citakannya bersama suami. Hal itu agar nantinya Yayan bisa mendoakannya saat dirinya meninggal dunia nanti.

”Saya restui anak saya untuk sekolah ke pesantren. Terima kasih, Bu Menteri sudah mau membantu saya menyekolahkan anak saya,” ucap Yana.

Desak kasus anak diselesaikan

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mendesak pemerintah jangan mengabaikan kasus kekerasan kepada anak. Pasalnya jika kejahatan terhadap anak didiamkan maka tidak menutup kemungkinan pelaku akan semakin sadis dalam melakukan aksinya.

Salah satunya kasus yang menimpa Yuyun, siswi SMP di Desa Padang Ulak Tanding, Kecamatan Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, yang diperkosa dan dibunuh 14 pemuda.

“Kalau ini tidak diselesaikan akan ada kasus lain yang semakin kejam,” ujar Arist dalam diskusi Polemik Radio Sindotrijaya Network bertajuk ‘Tragedi Yuyun, Wajah Kita’ di Resto Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Sabtu (7/5/2016).

Ia menambahkan, persepsi yang menganggap perempuan sebagai akar permasalahan kejahatan seksual harus dihilangkan. Sebab, kata dia, faktor utama adanya kejahatan seksual adalah kurangnya pendidikan keagamaan.

“Perempuan patut digoda itu yang kita hilangkan, itu harus kita luruskan. Laki-laki juga untuk patut digoda. Ini nilai-nilai keagaaman di Indonesia sudah kurang,” pungkasnya. (*)

Editor    : Puspito Hadi

Sumber : okezone.com

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.