Viewed 89 Times

SANBAV, Tas Cerdas Penolong Penderita Asma

0

MEDIA MALANG – Sejumlah mahasiswa dari Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB) berhasil menciptakan sebuah alat untuk penderita asma. Alat itu dinamakan SANBAV (Smart Android Bag for Asthma Prevention), tas cerdas pendeteksi kondisi lingkungan berbasis android sebagai solusi pencegahan segera bagi pengidap asma.

Tim SANBAV terdiri dari Muhammad Nur Azis (Teknik Mesin), Mohammad Efendi Sofyan (Teknik Mesin), Shofia Medina Samara (Pendidikan Dokter), Aisyah Nurul Amalia (Pendidikan Dokter), dan Nardo Golan (Teknik Elektro).

Ketua tim Azis mengemukakan, pembuatan alat ini terinspirasi dari permasalahan penyakit asma yang mayoritas menyerang orang muda usia produktif dan menggangu aktivitas mereka. Berdasarkan penelitian tim, salah satu penyebab utama asma adalah dari lingkungan yang tidak dapat dideteksi secara langsung.

“Makanya kami mencari solusi mendeteksi kondisi lingkungan berupa alat yang dibentuk menjadi sebuah tas agar mudah dipakai dan tidak menggangu pengguna,” ujar Azis dalam rilis yang diterima mediamalang.com, Jumat.

Shofia, Anggota tim lainnya menambahkan terdapat empat parameter utama lingkungan yang dapat menyebabkan asma kambuh. Parameter tersebut antara lain suhu, kelembapan, partikel debu, dan partikel gas.

“Kebanyakan pencetus asma adalah suhu yang lebih dingin sekitar 20 derajat C, khususnya daerah Malang. Selain itu, semakin tinggi kelembapan akan lebih mudah memunculkan kekambuhan asma, yakni sekitar 60-70 persen kelembapan,” kata mahasiswa angkatan 2013 itu.

Sedangkan, untuk faktor gas dan debu, lebih banyak dicetuskan oleh gas CO2 dan debu berukuran kurang dari 5 mikron yang mencemari lingkungan.

“Jadi sesungguhnya dari pencetus asma sampai asma kambuh ada beberapa rentang waktu. Di jarak waktu itu pengidap bisa berpindah dari lingkungan berbahaya atau menggunakan alat prevensi seperti masker dan inhaler,” tambah anggota tim lainnya Aisyah.

Tas cerdas SANBAV tersebut dilengkapi dengan android yang terkoneksi dengan tas melalui bluetooth. Ketika SANBAV diaktifkan, maka aplikasi yang terdapat pada android menampilkan parameter-parameter pencetus asma dengan nilai tertentu. Aplikasi ini nantinya bisa didapatkan pada PlayStore.

Ketika angka yang ditampilkan pada aplikasi keluar dari parameter normal, maka akan muncul sinyal kondisi bahaya dan muncul instruksi kepada pengguna. Misalnya, pengguna dianjurkan untuk menghindari lokasi ketika temperatur terlalu rendah ataupun memakai masker ketika lingkungan terkontaminasi partikel debu.

Alat ini juga bisa dikalibrasi sesuai kebutuhan pengguna, karena setiap pengidap asma masing-masing memiliki riwayat tersendiri. Sementara standar parameter SANBAV diatur memakai data rata-rata yang paling valid.

“Jadi bisa memasukkan secara manual data parameter pencetus asma masing-masing individu yang disesuaikan dengan kondisi aktual pengguna. Jadi alat kita tidak kaku, bisa dikalibrasi menyesuaikan dengan kondisi pengguna masing-masing,” ujar Azis.

Nardo, anggota tim yang bertugas membuat aplikasi, menambahkan bahwa penyebab asma ada yang bisa dipredikasi dan tidak bisa diprediksi. Kesemuanya telah dijelaskan dalam guide book aplikasi SANBAV. Didalamnya juga terdapat literatur lengkap berdasarkan referensi kedokteran yang terbaru dan teraktual.

Proses pembuatan SANBAV melibatkan dosen pembimbing Rudy Soenoko, dan dibantu dokter spesialis paru Ungky Agus S serta Susanti Djajalaksana. Alat yang diriset sejak tahun 2014 tersebut menghabiskan biaya riset sebesar Rp.1,5 juta. Namun untuk dikomersilkan masih bisa didapatkan harga yang lebih murah.

“Ke depan rencananya dipasang alarm, voice, dan LCD. Diharapkan ke depan ketika tas tidak terkoneksi dengan android masih bisa berfungsi sebagai peringatan. Biar nanti pengguna tidak terbatas untuk orang normal, tetapi orang dengan cacat fisik masih bisa memakai,” kata anggota tim lainnya Sofyan. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor   : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.