Viewed 2 Times

Sadranan, Tradisi Suku Tengger yang Memupuk Toleransi Beragama

0

MEDIA MALANG – Pesona alam Gunung Bromo yang posisinya dikelilingi empat wilayah kabupaten, yakni Malang, Pasuruan, Probolinggi, dan Lumajang, tidak ada habisnya. Bukan hanya jadi jujukan wisatawan domestik, namun juga tersohor hingga seluruh dunia.

Di Gunung Bromo, bukan hanya memiliki pesona alam yang indah, namun budaya masyarakat di sekitar gunung tersebut juga sangat kental. Toleransi menjadi pegangan utama yang selalu dipegang warga setempat. Penduduk asli di kawasan Gunung Bromo dikenal dengan nama Suku Tengger. Kendati mereka berbeda agama serta kepercayaan, mereka tetap guyub rukun.

Masyarakat Suku Tengger yang ada di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang letak desanya tidak jauh dari wisata alam Gunung Bromo, sangat menjunjung tinggi menghargai dan menghormati orang lain. Di desa ini mayoritas warganya beragama Hindu, tapi tetap menghargai masyarakat Muslim, sebagai minoritas yang di daerah itu.

Berdasarkan legenda Suku Tengger, kata Tengger berasal dari keturunan Roro Anteng dan Joko Seger, sehingga disingkat Tengger. Budaya yang diajarkan Roro Anteng dan Joko Seger selalu dipegang teguh masyarakat setempat.

Suku Tengger kaya dengan tradisi. Upacara adat Kasodo menjadi bagian ritual yang menarik perhatian di daerah ini. Ritual ini sebagai makna penghormatan terhadap asal usul Suku Tengger. Selain ritual itu, juga terdapat tradisi Sadranan, yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Tradisi ini dilakukan oleh Suku Tengger yang memeluk agama Islam. Tradisi Sadranan akan dilakukan pada Rabu, 13 September 2017.

“Tradisi atau budaya sadranan merupakan bentuk ritual berupa sedekah panggonan, yang sebelum diarak terlebih dahulu ditempatkan di rumah kepala adat. Budaya sadranan setiap tahun dilakukan, agar masyarakat Suku Tengger selalu mendapatkan berkah dari sang pencipta langit dan bumi,” kata Kepala Adat Suku Tengger di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang Ki Dukun Sinetram, Selasa (12/9).

Ia mengatakan, Suku Tengger yang ada di Desa Ngadas ini sangat menjunjung tinggi toleransi kemasyarakatan dan beragama, sehingga di desa ini tidak pernah ada ketersinggungan di antara warga.

“Karena warga disini baik yang memeluk agama Hindu dan Islam sangat harmonis dan saling menghormati. Dan dengan kuatnya budaya yang kami miliki ini, penduduk disini juga memegang kuat tradisi yang ditinggalkan nenek moyang,” ujarnya.

Sementara itu, sebelum rangkaian upacara Sadranan, terlebih dahulu dilakukan ritual sedekah panggonan yang dilakukan di rumah kepala adat. Kegiatan dimulai sejak 06.00-07.00 WIB. Selanjutnya, masyarakat Desa Ngadas baik yang Muslim maupun yang memeluk agama Hindu bersama-sama untuk mengikuti upacara ritual. Setelah upacara ritual Sadranan, pada sore harinya dilanjutkan tradisi ujung-ujung, yaitu masyarakat Muslim melakukan silaturahmi kepada sanak saudara dan tetangga, seperti Hari Raya Idul Fitri (*)

Penulis : Cahyono

Editor  : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.