Viewed 257 Times

Ratusan Mahasiswa Tuntut Pemerintah Cabut PP Upah Buruh

0

MEDIA MALANG – Ratusan Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Solidaritas Mogok Nasional Buruh unjuk rasa di depan Balai Kota Malang, menuntut agar pemerintah mencabut PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. PP itu dinilai tidak pro pada buruh, sebab para buruh tidak lagi dilibatkan dalam proses penentuan upah.

Koordinator aksi, Eko mengemukakan paket kebijakan ekonomi rezim Jokowi-JK sangat terlihat mendukung para pemilik modal. Hal itu terlihat dimana sektor pereekonomian di Indonesia ini lebih diserahkan pada mekanisme pasar. Hal itu didukung dengan peraturan perundang-undangan dan PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. “Upah diberikan berdasarkan laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi dan ini sangat tidak wajar,” ujarnya di sela-sela unjuk rasa, Kamis hari ini.

Ia juga mengatakan posisi buruh sangat lemah dengan peraturan yang baru tersebut. Selain ketentuan pemberian upah yang diberikan berdasarkan laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi, buruh juga tidak lagi terlibat dalam proses penentuan upah. Bahkan, pemerintah pun tidak memberikan sanksi pidana dan hanya teguran pada perusahaan yang telat membayarkan upah pada buruh. Hal itu ditambah dengan survei KHL (kebutuhan hidup layak) yang dilakukan setap lima tahun sekali. “Segala ketentuan itu bertentangan dengan amanat UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,” tegasnya.

Dalam aksinya, mahasiswa tersebut mendukung penuh sikap mogok nasional dan segala aktivitas perlawanan yang dilakukan para buruh untuk mencabut PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Mereka juga meminta agar pemerintah menaikkan komponen KHL dari sebelumnya hanya 60 item menjadi 84 item. “Kami juga menuntut agar pemerintah mengembalikan penentuan KHL menjadi per satu tahun, dan kami menolak politik upah murah,” tegasnya.

Aksi itu selain dilakukan di Balai Kota, juga ke Kantor DPRD Kota Malang, serta Pendopo. Massa gabungan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat Tertindas (SMART) ini orasi menyuarakan aspirasinya. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor   : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.