Viewed 900 Times

Punden Mojorejo Diyakini Awal Prasasti Sangguran

986

MEDIA MALANG– Suwardono sejarawan asal Kota Malang ini mencoba menelisik lokasi awal Prasasti Sangguran. Mengacu literatur yang ditulis sejarawan Belanda NJ Krom dan JLA Brandes, Suwardono menelusur dan meyakini bahwa Punden Mojorejo inilah lokasi awal Prasasti Sangguran itu.

Kondisinya sangat memprihatinkan berada di kawasan persawahan penduduk setempat. Papan tulisan Punden menjadi cagar budaya terpasang di sisi selatan titik Punden hanya terdapat beberapa bongkaran batu besar. Terlihat jelas, lokasi tanah rata seperti bekas menjadi pondasi dari bangunan diatasnya.
?
Sebatang pohon besar berdirinya menjulang disisi bongkaran batu. Dulu hingga sekarang lokasi ini sering didatangi orang untuk ngalab berkah. Jumain adalah salah satu warga yang pernah merawat Punden tersebut. Jumain bercerita, jika dirinya hanya membantu sesepuh desa merawat Punden yang diyakini dirinya sebagai bekas tempat pertapaan Empu Sindok. “Itu bekas pertapaan Empu Sindok,” tutur Jumain saat ditemui tadi sore.

Jumain tak yakin jika di situ dulunya adalah tempat Prasasti Sangguran, dirinya mengaku tak mengetahui apa prasasti tersebut. “Bukan, itu tempat pertapaan Empu Sindok,” tegasnya.

Bagaimana Suwardono meyakini bahwa Punden Mojorejo ini adalah lokasi awal Prasasti Sangguran? Suwardono mengacu pada transkrip terjemahan Prasasti Sangguran yang ditulis lengkap pada tahun 1913 diterbitkan oleh Krom dan Brandes dalam Oud-Javaansche Oorkonde. VBG, LX.

Prasasti itu menyebutkan nama 2 Desa, Sangguran dan Mananjung. Isinya memberikan hak istimewa bagi Desa Sangguran untuk dibebaskan dari pajak, dan Desa Sangguran penghasilannya diberikan untuk memelihara tempat suci di Desa Mananjung yang ditempati para pandai besi. Prasasti Sangguran juga menyebutkan nama nama Raja Dyah Wawa, juga Empu Sindok.

Berangkat dari isi Prasasti itu, Suwardono mencari desa Mananjung yang di dalamnya ada tempat suci. Dalam artikel yang ditulis NJ Krom’s berjudul “De Herkomst van den Minto-Steen” (BKI 73) yang diterbitkan tahun 1917, dituliskan catatan jurnal yang dibuat oleh Kolonel Adams saat berkunjung ke Malang dan Antang pada bulan Juni 1814.

Adams mendeskripsikan bahwa ada “reruntuhan pura Hindu sekitar paruh perjalanan antara Malang dan Batu”, di kalimat berikutnya Adams juga menuliskan “satu prasasti batu besar yang ditemukan Mackenzie di sekitarnya (neighbourhood) dan dikirimkannya oleh Lord Minto”. Suwardono kemudian mencari lokasi Desa Mananjung kini yang terdapat bekas pura Hindu di sekitar Batu. Dugaan kuat adalah Candi Songgoriti.

Dalam artikel yang ditulis Suwardono, “Korelasi Candi Songgoriti dengan Prasasti Sangguran Tahun 928 M”, Songgoriti berasal dari kata dasar sanggha yang berarti kelompok, rombongan, kumpulan (Zoetmulder, 2004:1020; Mardiwarsito, 1986:507), dan riti yang artinya logam sebangsa perunggu, kuningan (Zoetmulder, 204:953).

Dengan demikian nama Songgoriti berarti timbunan logam. Di daerah sekitar Songgoriti sampai sekarang masih didapati nama-nama tempat seperti Kemasan (tempat pengrajin emas) dan Pandesari (pusat pandai logam). Dengan demikian daerah Songgoriti, yang dalam perkembangannya menjadi sebuah desa/kelurahan bernama Songgokerto, dahulunya merupakan sebuah tempat perkumpulan atau tempat adanya suatu usaha pembuatan barang-barang dari logam.

Prasasti Sangguran menyebutkan bahwa daerah Sangguran dijadikan tanah swatantra guna pembiayaan bangunan suci bagi kajurugusalyan (para pandai logam) di Mananjung. Bangunan suci dari sekelompok para pandai logam identik dengan candi Songgoriti tempat para ahli membuat barang-barang dari logam.

Setelah menemukan Desa Mananjung yang diyakininya adalah Songgoriti dan tempat suci yang harus dijaga diduga kuat adalah Candi Songgoriti, Suwardono kemudian mencari Desa Sangguran. Berdasarkan laporan Kolonel Adams, Krom menyimpulkan bahwa Minto Stone, nama populer dari Prasasti Sangguran aslinya dari Desa Ngandat, di mana ada sisa-sisa pura yang dilaporkan di abad ke-19.

“Saya mencoba menyamakan arti Sangguran dengan Ngandat atau Kandat, jika di dalam bahasa Jawa memiliki makna sama. Sangguran itu menganggur, dan Ngandat itu berhenti, artinya sama,” ungkapnya.
Ngandat juga disebut dalam catatan Kolonel Adams tahun 1814, jika di wilayah ditemukannya prasasti tersebut ditemukan puing-puing candi yang diduga menjadi tempat asal prasasti.

“Jika mengutip lagi transkrip secara lengkap pada tahun 1913 diterbitkan oleh Krom dan Brandes dalam Oud-Javaansche Oorkonde. VBG, LX. Disebutkan bahwa batu prasasti tersebut berasal dari daerah Malang, yang menurut Krom berasal dari Desa Ngandat atas dasar laporan-laporan kolonel Adams sekitar tahun 1814. Di mana Ngandat itu? Ya di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, sekarang,” tuturnya.

Dengan mengikuti literatur yang ditulis Krom dan Brandes bahwa adanya sebuah prasasti yang dahulu ditemukan di Ngandat-Batu serta adanya sisa-sisa bangunan candi yang pernah diberitakan oleh kolonel Adams dua abad yang lalu, bahwa di Ngandat pernah ditemukan reruntuhan sebuah bangunan (candi?), maka di atas bangunan itulah sebenarnya asal prasasti.

Di desa Mojorejo kecamatan Junrejo kota Batu, apabila dari arah Malang sampai di pertigaan Pendem, kemudian ke kanan mengikuti jalur ke Karangploso. Sekitar 100 meter dari pertigaan, dan sebelum sampai jembatan kali Lanang, ada jalan ke kiri yang beraspal. Mengikuti jalan tersebut ke barat kurang lebih 900 m, sampailah di punden Mojorejo, di sisi kiri (selatan) jalan.

Di sana didapati adanya sisa-sisa batur dari sebuah bangunan (candi) serta banyaknya bata merah besar, yang menurut pemberitaan merupakan sebuah temuan baru (padahal sudah diketahui sejak lama). Sementara waktu belum dapat diidentifikasi sisa-sisa bangunan tersebut berasal dari jaman apa. Masyarakat setempat menyebut Punden Mbah Joyo Slamet atau lebih dikenal Punden Mojorejo. Mengamati sisa-sisa yang ada, bangunan tersebut merupakan sebuah bangunan candi dari bata merah, sementara pondasinya dari batu andesit.

Maka tidak menutup kemungkinan dan dapat diduga bahwa sisa-sisa bangunan candi yang menurut penduduk ditemukan dalam kondisi masih baru di Mojorejo itu, tidak lain adalah bangunan yang telah dilaporkan oleh kolonel Adams pada jaman Raffles di Indonesia, yaitu sekitar tahun 1812.

 

Penulis : Putra Ismail

Editor  : Laily Noor Hidayah

Komentar Anda

Komentar

Leave A Reply