Viewed 155 Times

Pulau Merah Banjir Lumpur, Ternyata Ini Penyebabnya

0

MEDIA MALANG – Pantai Pulau Merah, salah satu destinasi wisata di Kabupaten Banyuwangi banjir lumpur. Akibatnya, air pantai yang biasanya terlihat bening menjadi keruh dan coklat.

Beberapa wisatawan terpaksa membatalkan surfing dan harus balik lagi karena tidak memungkinan untuk berselancar.

“Sudah hampir 10 hari keadaan seperti ini. Puncaknya seminggu yang lalu saat hujan lebat dan banjir bandang. Lumpur tebal. Ada 20-an tamu mancanegara yang mau surfing, cancel. Siapa yang mau surfing dengan air berlumpur,” jelas Samsul Arifin, salah satu pengelola Surf Camp di Pulau Merah saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (19/8/2016).

Hal senada juga diceritakan Arjo Saniman (82), pemilik warung di Pulau Meraha. Kepada Kompas.com dia menceritakan, air laut di Pulau Merah sudah mulai berubah warna sejak dua bulan lalu. Tapi semakin parah sejak seminggu terakhir, terutama saat intensitas hujan semakin tinggi.

“Dulu hujan selebat apapun, airnya tidak akan keruh. Jadi seperti ini mulai ada penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu. Itu liat di sana. Hutannya sudah gundul,” keta Arjo menunjuk ke arah Gunung Tumpangpitu yang bersebelahan dengan Pantai wisata Pulau Merah.

Arjo menjelaskan, jumlah wisatawan yang datang juga semakin berkurang. Dua belas kursi payung yang ia kelola biasanya selalu habis disewa orang, sekarang dalam satu hari hanya tiga atau empat orang yang menyewanya.

“Dulu 12 kursi laku semua, sekarang empat saja yang nyewa sudah bersyukur. Satu jam nyewanya 20 ribu rupiah. Penghasilannya bisa sejuta sehari tapi itu dulu. Sekarang sudah nggak,” jelasnya.

Menurutnya, sejak banjir lumpur semakin parah, terlihat beberapa petugas dari perusahaan tambang membersihkan lumpur di tepi pantai Pulau Merah.

“Tapi percuma dibersihkan karena lumpurnya terlalu banyak. Nanti kalau hujan lagi pasti lumpurnya akan datang lagi. Lihat, lumpurnya sudah makin menebal,” katanya sambil menunjukkan bogkahan lumpur yang mengeras.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Banyuwangi, Chusnul Khotimah kepada Kompas.com, Kamis (18/8/2016) mengaku sudah mendatangi lokasi Pulau Merah dan mengambil sample lumpur yang berada di Pulau Merah.

“Sample lumpur akan kami teliti terkait kandungan apa di dalamnya. Kami juga menemui pihak perusahaan tambang emas untuk meminta kejelasan terkait lumpur yang memenuhi pantai Pulau Merah. Dugaan memang karena pembukaan lahan dan pembangunan infrastruktur di Gunung Tumpang Pitu yang posisinya bersebelahan dengan Pulau Merah,” pungkasnya.

Tambang emas diduga cemari pulau merah

Penyebab banjir lumpur di destinasi wisata Pantai Pulau Merah, Kabupaten Banyuwangi, diduga karena pembukaan lahan di Gunung Tumpang Pitu yang dibangun untuk kawasan pertambangan emas.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Banyuwangi, Chusnul Khotimah kepada Kompas.com.

“Di Gunung Tumpang Pitu ada pembukaan lahan untuk pembangunan dan pasti ada penebangan pohon, sehingga kalau terjadi hujan walaupun intensitasnya kecil pasti yang akan erosi,” jelas Chusnul.

Dia mengaku sudah menemui perusahaan tambang untuk mempertanyakan banjir lumpur di Pulau Merah karena menurutnya pihak perusahaan harus memperhitungkan antisipasi tersebut sejak awal pembangunan.

Selain itu, dengan adanya segmentasi lumpur di Pulau Merah, kata Chusnul, menunjukkan adanya ketidaksempurnaam teknis.

“Saya sudah datang ke area tambang tapi tidak diperkenankan masuk untuk melihat apa yang terjadi di dalam karena masuk objek vital nasional. Tapi saya menghargai itu,” jelasnya.

Dari penjelasan yang ia dapatkan dari pihak perusahaan, banjir lumpur karena dam yang dibuat pihak perusahaan tidak menampung curah hujan yang turun.

“Ada enam dam yang masuk dalam perencanaan dan ada dua yang sudah difungsikan. Untuk luasan dam sekitar 24 hektar dengan kedalaman beragam, ada yang 1,8 meter,” katanya.

Seharusnya, menurut Chusnul, dam tersebut dibuat jauh-jauh hari sebelum membangun sarana prasarana seperti jalan, basecamp sehingga hujan bukan menjadi alasan banjir lumpur di Pulau Merah.

“Pihak perusahaan mengaku sudah melakukan antisipasi dengan membuat 45 dam kecil di sungai untuk jangka pendek tapi tidak membantu banyak,” tambahnya.

Namun yang terpenting, menurut Chusnul, adalah pihak perusahaan harus segera melakukan normalisasi, dan endapan di sekitar pantai Pulau Merah harus segera diangkat.

Secara regulasi, kegiatan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu sudah terpenuhi, tetapi yang harus dingat adalah adanya fasilitas sosial dan wisata yang ada di sekitarnya.

“Sejak awal mereka mengatakan akan berkomitmen selaras dengan wisata serta masyarakat dan untuk itu kami menagih komitmen tersebut. Penyelesaian ini harus ekstra cepat. Butuh dam pengendali karena mereka sejak awal tahu berdekatan dengan wisata dan pemukiman,” jelasnya.

Pihaknya pun juga mengambil sampel lumpur yang berada disekitar Pulau Merah untuk memastikan kandungan di dalamnya.

“Tidak ada jaminan kandungan itu aman atau tidak. Ada yang berwarna hitam, walaupun kata warga itu adalah lumpur yang lama tetap akan kami uji,” jelasnya.
(*)

Editor   : Puspito Hadi

Sumber : kompas.com

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.