Pria Ini Sulap Akar Bambu Jadi Kerajinan Bernilai Jual Tinggi

0

MEDIA MALANG – Akar bambu selama ini hanya menjadi sampah ataupun bahan bakar untuk memasak. Namun, di tangan Jumaro Joko Pratomo, ternyata akar bambu mempunyai nilai seni tinggi, bahkan dihargai sangat mahal.

Pria pemilik Usaha Dagang Galer 76 ini mengemukakan usaha membuat kerajinan akar bambu ini sudah dimulainya sejak tahun 2000. Berawal dari ide ingin membuat usaha kreatif, ia akhirnya menjatuhkan pilihannya membuat kerajinan akar bambu.

“Saya dulu awalnya lebih ke handycraf. Saat itu, saya spekulasi ikut pameran Inacraft, lalu membuat website dan berkembang,” katanya saat berbincang dengan mediamalang.com di galeri miliknya, Jalan Raya Kebon Agung, Kota Malang, Jumat.

Ia mengatakan, setelah mencoba peruntungan membuat handycraf, ia akhirnya menjatuhkan pilihan dengan membuat kerajinan dari akar bambu. Ternyata, kerajinan ini sangat diminati terutama oleh pasar luar negeri.

Kerajinan yang dikelolanya, kata dia, sudah dieskpor ke berbagai negara. Bahkan, saat ini ia rutin mengirimkan produk yang dibuatnya itu ke Dubai, Brazil, Belanda, Tunisia, Perancis, serta sejumlah negara lainnya. Kerajinan itu misalnya membuat bentuk ayam, bebek, topi, dan beragam bentuk lainnya.

Membuat kerajinan itu, kata dia, juga tidak terlalu sulit dan hanya butuh telaten serta inspirasi. Ia pun awalnya juga belajar otodidak, memahat akar bambu menjadi beragam bentuk. Namun, bakat seni sudah mengalir di darahnya. Sejak kecil ia cenderung suka seni, walaupun dari keluarganya bukan berdarah seni.

Bambu yang biasa ia gunakan adalah jenis petung dan ori, sebab tahan lama dan mempunyai bentuk yang besar. Jika bentuknya besar, akar itu bisa dibuat kerajinan dengan ukuran lebih besar.

Membuat kerajinan, tambah dia, tidak hanya soal memahat, melainkan soal memastikan ukuran dimensi. Jika pesanan, maka harus dilihat di sudut sebelah mana kerajinan itu akan dipajang, sehingga bisa diketahui ukuran yang harus dibuat.

“Saya lebih suka langsung mengeksplor, jadi tidak terlalu berkonsep. Saya pun membebaskan para pekerja untuk membuat kerajinan,” ujarnya.

Usaha yang digeluti Joko ini sempat terhenti sekitar tujuh tahun, namun saat ini usaha yang dirintisnya ini kembali berjalan. Saat ini, usahanya juga semakin berkembang dengan pangsa pasar tetap ekspor. Omzetnya dalam sebulan bisa mencapai angka Rp.150 juta.

Soal harga, Joko mengaku sebenarnya tidak terlalu mahal. Harga kerajinan yang dibuatnya ada yang paling murah yaitu Rp.50 ribu. Namun, jika sudah ke luar negeri, harga itu tentunya berubah, mengikuti nilai rupiah.

Menggeluti usaha ini, lanjut dia, juga mempunyai beragam kendala. Salah satunya soal tenaga. Dulu, pekerjanya difokuskan untuk membuat beragam kerajinan. Ia bahkan tidak segan mempekerjakan mantan narapidana. Namun, saat ini karena pesanan yang semakin banyak, ia mempekerjakan masyarakat umum.

Saat ini, Joko mempunyai 16 orang pekerja. Ia pun mengaku harus berupaya semakin kreatif, terlebih lagi di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) seperti saat ini. Ia juga berharap, usahanya semakin berkembang, sehingga semakin banyak orang yang bisa mendapatkan penghasilan dari bekerja di tempatnya. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor : Puspito Hadi

Comments are closed.