Viewed 6 Times

Petani Tebu Ancam Unjuk Rasa Istana Negara

0

MEDIA MALANG – Ribuan Petani tebu yang tergabung dalam Pusat Koperasi Primer Tebu Rakyat (PKPTR) mengancam akan melakukan unjuk rasa di Istana Negara, Jakarta menyusul belum terserapnya gula petani hasil proses giling ke Bulog maupun ke pasaran. Di Istana Negara mereka akan mendesak pemerintah untuk merevisi kebijakan baru yang mematok pembelian gula dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp.12.500 per kilogram karena dianggap merugikan petani.

“Aksi sudah diputuskan oleh perwakilan petani dari seluruh Indonesia, baik dari DPC dan DPD dari pabrik gula di Jawa dan lainnya. Baik dari PG BUMN dan swasta. Aksi akan diikuti 20 ribu petani tebu dari PKPTR dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI),” kata Ketua Umum PKPTR, Hamim Kholili kepada wartawan, Minggu (20/8).

Menurut Hamim, aksi itu terpaksa dilakukan karena petani keberatan dengan HET Rp.12.500 per kg yang dikeluarkan pemerintah. Selain dinilai kurang kompetitif, Bulog pun kesulitan membeli gula petani. Dampaknya, selain produksi gula menumpuk di gudang, banyak petani menghentikan tebang tebu lantaran tidak memiliki biaya operasional.

“Gula petani sekarang menumpuk di gudang pabrik gula. Sedangkan, harga gula di pasar di bawah Rp.11.000 per kg, dan jelas tidak menguntungkan petani,” ungkap Pengasuh Pesantren Roudlotul Ulum 2, Gondanglegi, Kabupaten Malang, ini.

Ia berharap agar persoalan harga gula tidak berkepanjangan, pihaknya mendesak pemerintah harus segera mengeluarkan kebijakan baru dengan merevisi harga eceran tertinggi (HET) gula, dari harga Rp.12.500 per kg menjadi Rp.14.000 per kg sekaligus menetapkan harga pokok produksi gula petani R.p11.000 per kg.

Kesulitan menjual gula hasil produksi ini pun juga dialami PT Perkebunan Nusantara di wilayah Jatim.

Direktur Komersil PTPN XII Hudi Prihmono mengatakan dengan tata niaga sekarang, gula kristal putih produksi Industri Gula Glenmore (IGG), Banyuwangi, Jatim, sebanyak 3.500 ton dari proses giling sejak Juli 2017, belum diserap Bulog dan pasar.

“Sejak Juli 2017, sebanyak 3.500 ton gula kristal putih menumpuk di gudang PTPN,” katanya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Pemerintah Kabupaten Malang Nasri Abdul Wahid menyatakan prihatin dengan kondisi yang dialami petani tebu di Kabupaten Malang. Padahal di Kabupaten Malang memiliki potensi tebu cukup besar mencapai 44.317 ha dengan produksi gula sebanyak 196.452 ton pada 2016. “Tahun ini, petani seharusnya menikmati hasil produksi tebu. Tapi harga gula justru turun,” sesalnya. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor  : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.