Petani Dibunuh, Aktifis Lingkungan Turun Jalan

0

MEDIA MALANG – Puluhan aktifis lingkungan yang tergabung Sedulur Tunggal Roso Kota Malang melakukan aksi demonstrasi mengutuk pembunuhan dan penganiayaan yang dilakukan belasan preman terhadap dua orang petani di desa Awar – Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jum’at (26/9) lalu. Dalam aksinya mereka meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus pembunuhan dan penganiayaan terhadap Salim alias kancil (52) dan Tosan (51) yang menolak adanya pertambangan pasir di pesisir Pantai Watu Pecak, Desa Pelok, Lumajang.

“Kami mendesak Polisi untuk mengusut tuntas kasus pembunuhan ini serta membongkar aktor intelektual dibalik pembunuhan baik penguasa maupun pengusaha yang terlibat dalam sindikat mafia tambang,” kata Koordinator Aksi, Abdurahman Sofyan, di depan Balaikota Malang, Senin siang.

Dalam aksinya mereka menyayangkan sikap Pemerintah daerah (Pemda) dan Kepolisian setempat yang terkesan melakukan pembiaran terhadap konflik pertambangan tersebut. “Jika pemerintah dan Polisi tanggap tidak mungkin kekerasan terhadap dua petani itu terjadi. Jangan-jangan malah mereka sebenarnya sumber persoalan itu,” tudingnya.

Para aktifis lingkungan ini pun menduga bahwa persoalan pertambangan pasir itu dipicu karena ketidakberesan pemda setempat dalam mengatur pertambangan, baik perijinan maupun keadilan distribusinya dan mengorbankan hak- hak masyarakat , sehingga memicu perlawanan bagi mereka untuk merebut kembali hak yang telah dirampas, sehingga muncul kekerasan dan pembunuhan itu.”Kami yakin ada keterlibatan cukong-cukong yang bermain di pertambangan itu,”ungkapnya.

Terkait kejadian ini, para demonstran mengaku akan tetap mendukung perjuangan warga desa Awar- Awar untuk tetap berjuang menolak penambangan pasir yang merusak lingkungan mereka. Mereka juga meminta kepada Pemerintah Propinsi Jawa Timur dan Pemerintah Pusat untuk menertibkan seluruh aktifitas penambangan di seluruh Jawa Timur.

“Jika Gubernur Soekarwo tidak sanggup memberi kepastian keadilan atas sumber daya tambang bagi rakyat, maka sudah selayaknya dia mengundurkan diri,” tambah Lutfi J Kurniawan dalam orasinya.

Sementara itu, saat ini kasus pembunuhan dan penganiayaan terhadap Salim dan Tosan masih ditangani Polres Lumajang. Polisi berhasil menangkap 17 orang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan dan penganiayaan.

Akibat kejadian itu, Salim meninggal dunia setelah disiksa dan jasadnya ditemukan di lokasi pemakaman dengan kondisi tubuh penuh bacokan. Sedangkan, Tosan nyawanya masih tertolong meski luka yang dialami cukup parah. Tosan dikabarkan masih menjalani perawatan intensif di Ruang ICU Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Kota Malang. (*)

 

Penulis : Dix’s Fibriant

Editor : Puspito Hadi

 

Comments are closed.