Perpustakaan Ini Pungut Bayaran Pinjam Buku dengan Sampah

0

MEDIA MALANG – Demi meningkatkan minat baca serta menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, perpustakaan di Kabupaten Semarang ini menerapkan cara unik. Setiap peminjam harus membayar buku yang dipinjamnya, bukan dengan uang melainkan sampah plastik.

Perpustakaan kecil nan sederhana itu berada di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Desa Kalisidi, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Sekilas penampilannya biasa saja, rak dan buku-buku cerita, buku pengetahuan hingga buku-buku ketrampilan tertata dengan baik. Namun, keunikannya muncul saat anak-anak desa berdatangan. Di tangan mereka menggenggam botol-botol bekas atau plastik kemasan.

Perpustakaan Desa Kalisidi ini memang memungut bayaran bagi setiap anggota yang mau meminjam buku. Pembayarannya bukan dengan uang, namun dengan menggunakan sampah plastik.

Setiap peminjam buku wajib membawa satu botol plastik atau tiga gelas platik bekas atau lima lembar bungkus plastik atau kaleng bekas. Setiap anak, rata-rata meminjam dua hingga tiga buku perharinya.

“Paling suka pinjem buku anak-anak. Biasanya saya bawa dua atau tiga botol plastik, dapat dua buku,” kata Yunita Ambarsari (12), anggota perpustakaan.

Perpustakaan desa ini luasnya tak lebih dari 150 meter persegi. Letaknya ada dikompleks kantor desa setempat. Koleksi bukunya sekitar 3.000 judul, hampir seluruhnya adalah hibah dari pihak lain.

Meski demikian, perpustakaan sederhana ini benar-benar menjadi jendela ilmu pengetahuan bagi anak-anak yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota ini.

Perpustakaan berbayar sampah ini dibuka setiap hari pukul 13.00 hingga 15.00. Peminatnya tak hanya anak-anak dari usia SD saja, anak-anak remaja seusia SMP hingga SMA pun banyak yang menyambangi perpustakaan desa ini. Bahkan anggota perpustakaan yang berusia dewasa, kerap dilibatkan sebagai relawan pengelola perpustakaan. Mereka bertugas membantu dalam pengadministrasian perpustakaan.

“Yang datang lima orang, lalu bawa sampah. Seperti plastik, terus botol aqua, botol-botol lainnya. Satu karung bisa terkumpul satu bulan,” kata Vina, salah satu relawan perpustakaan.

Koordinator perpustakaan, Farah Awalia Cendana mengungkapkan, perpustakaan berbayar sampah ini sudah berjalan tiga tahun.

Ide menggabungkan perpustakaan dengan bank sampah ini berawal dari keprihatiannya terhadap kesadaran masyarakat dalam hal kebersihan yang masih rendah.

Banyak sampah rumah tangga dibuang sembarangan, termasuk sampah plastik. Dia khawatir, Desa Kalisidi yang selama ini dikenal dengan keindahan alamnya ini lambat laun akan menjadi kumuh lantaran tumpukan sampah plastik.

Sementara di sisi lain, dirinya juga melihat minat baca anak-anak desa cukup tinggi sehingga muncullah konsep menyewa buku diperpustakaan dengan sampah sebagai alat pembayarannya. Alhasil, saat ini anak-anak sudah sadar akan kebersihan, terutama mengenai sampah plastik dan lingkungan desa juga semakin asri bebas dari sampah plastik.

“Kita sih pengen desa kita bersih, apa namanya go green-lah. Pemilahan sampah yang organik sama non-organik yang utama sih itu. Daripada dibakar, satu bikin asap, yang kedua juga sebenarnya juga sampah plastik ini masih bisa dimanfaatkan jadi lebih ekonomis,” ungkap Farah.

Selain mengurangi sampah plastik, para anggota perpustakaan juga mendapatan nilai lebih dari konsep perpustakaan berbayar sampah ini.

Setiap bulannya, mereka akan mendapatkan insentif berupa alat tulis, yang dibeli dari uang hasil penjualan sampah yang dikumpulkan. Dengan cara ini, anak-anak tentunya akan lebih rajin membaca buku dan lingkungan desa juga bersih dari sampah plastik. (*)

Editor    : Puspito Hadi

Sumber : kompas.com

Comments are closed.