Morodadi, Toserba Berusia 1 Abad

1003

MEDIA MALANG – Apakah anda sedang mencari  barang lama yang sudah langka di pasaran? mungkin anda bisa mencari di toko Morodadi. Toko serba ada yang berlokasi di Jalan Laksda Adi Sucipto no. 7 Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Toko yang sudah berusia 100 tahun ini, masih bertahan ditengah maraknya toko online yang kini sedang menjamur.

“Kami menjual barang-barang lama seperti sandal Lilly yang populer pada tahun 60an, pewarna rambut Tancho, dan pemantik api bersumbu,” ujar Tini, pemilik toko Morodadi saat bersama Media Malang, Minggu siang.

Toko Morodadi merupakan toko yang dibangun Tan Amie, seorang keturunan Tiongkok pada tahun 1915. Awalnya Amie menjual sembako, namun selang berjalannya waktu Morodadi beralih menjadi toko agen rokok. Dikarenakan kurang membawa keuntungan, maka Morodadi beralih sebagai toko serba ada. Barang yang dijual pun beragam, mulai dari sabun, sandal, kain meteran, mainan anak-anak, sampai peralatan elektronik.

Sepeninggal Tan Amie, toko Morodadi diteruskan oleh putrinya yakni Tini Suwarni. Wanita berusia 74 tahun ini diajarkan berdagang sejak kecil dan tetap memegang prinsip yang diterapkan oleh sang ayah. Niat yang kuat dan semangat yang tinggi selalu menjadi tekad ibu dari 4 orang anak ini.

“Kalau hari ini sepi ya terima kasih. Kemarin rame juga terima kasih. Yang penting bisa mensyukuri dan jangan mengeluh,” tuturnya.

Banyaknya kompetitor baru yang bermunculan tidak menyurutkan semangat Tini. Ia tetap berusaha mempertahankan toko warisan ayahnya. “Saya ingat pepatah China, mendirikan perusahaan itu sulit. Tapi mempertahankannya jauh lebih sulit,”  tegas dia.

Jatuh bangun dalam bisnis pernah dialami oleh Morodadi. Namun Tini tetap memegang prinsip kejujuran. “Walaupun dalam keadaan sulit, tapi saya percaya pasti Tuhan memberi rejeki. Yang penting usaha dan doa. Doa tanpa usaha tidak akan bisa, begitu pula sebaliknya,” pungkas istri dari Heri Indarto ini.

Meskipun hanya menjual barang-barang yang sudah ditinggalkan banyak orang, Tini bisa menyekolahkan 4 orang anaknya dan 3 keponakannya ke jenjang yang lebih tinggi. “Awalnya anak-anak meminta saya untuk merubah jenis dagangan, tetapi saya tidak mau, karena hasil dari toko ini bisa menyekolahkan anak-anak. Ada yang menjadi dokter dan arsitek,” tutupnya bangga.

Penulis : Laily Noor Hidayah

Editor   : Putra Ismail

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.