Viewed 27 Times

Mbah Fanani Kembali ke Tenda Pertapaan di Dieng

0

MEDIA MALANG – Mbah Fanani akhirnya kembali ke tenda pertapaan di Dieng, setelah diboyong dan sebulan lebih berada di Petilasan Dampu Awang Indramayu bersama Abah Rojab, seorang petapa asal Wonosobo.

Puluhan orang mengantar Mbah Fanani ke tenda pertapaan di Jalan Raya Dieng, RT 1 RW 1, Desa Diengkulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Warga setempat yang menyambut larut dalam suasana haru. Bahkan tak sedikit yang melantunan selawat.

“Pada berselawat, terus banyak orang Dieng yang lihat. Saya mau nangis, terharu,” kata warga sekitar tenda Mbah Fanani, Harizka Umami Masruroh (23) kepada merdeka.com, Senin (22/5).

Puluhan orang yang ikut mengantar Mbah Fanani berasal dari Dieng dan Indramayu. Mbah Fanani tiba kemarin sekira setengah delapan malam.

Petapa belasan tahun tersebut terlihat cuma mengenakan sarung lusuh. Sejumlah orang menggendong Mbah Fanani dari dalam mobil menuju tenda.

Tidak ada sepatah kata keluar dari mulut Mbah Fanani. Dia hanya menurut saat digendong warga.

Begitu tiba di dalam tenda, sejumlah ustaz dan perangkat desa setempat ikut masuk. Tak pasti apa yang dilakukan.

Keputusan Mbah Fanani balik ke tenda pertapaan, dikabarkan karena tidak betah berada di Petilasan Dampu Awang. Sehingga dia ingin kembali.

“Mbah Fanani di sana kabarnya enggak betah dan sering sakit,” tutur Harizka.

Selain itu, kepergian Mbah Fanani juga membuat warga merasa kehilangan sehingga memutuskan untuk membawa kembali.

“Dari pihak sini (warga Dieng) merasa kehilangan, jadinya dijemput lagi,” tuturnya.

Bagi Harizka, Mbah Fanani sudah seperti keluarga sendiri. Dia sejak kecil sudah mengenal Mbah Fanani.

“Lihat Mbah Fanani sudah bertahun-tahun,” tuturnya.

Hingga kemarin malam, warga semakin ramai berdatangan dan memadati sekitar tenda Mbah Fanani. Sejumlah petugas keamanan terlihat di lokasi.

Mbah Fanani diboyong oleh belasan orang dari tenda di pertengahan bulan April kemarin. Dia dibawa ke Petilasan Dampu Awang.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Azun Mauzun salah seorang yang turut serta membawa Mbah Fanani kala itu bercerita, bahwa dia diminta tolong oleh Abah Rojab untuk menjemput.

Sedangkan Abah Rojab disebut mendapat permintaan langsung dari Mbah Fanani melalui komunikasi batin.

Azun menyebut Abah Rojab memiliki kemampuan mampu menyembuhkan orang sakit jiwa. Banyak pasien menjalani terapi selama tiga bulan setelah itu bisa kembali normal.

“Metodenya mereka dibiarkan di rumah beliau dan banyak yang sembuh. Dipijat dan didoakan,” kata Azun saat diwawancarai merdeka.com, Senin (17/4).

Namun, berdasarkan penelusuran merdeka.com di Dieng Kulon, Banjarnegara, informasi mengenai Abah Rojab ternyata berbeda.

Mbah Surip (40) yang rumahnya berjarak tiga meter dari tenda pertapaan bercerita banyak soal sosok Mbah Fanani dan juga Abah Rojab. Dia tahu karena Rojab dan anaknya, Toha, dulu sering datang ke pertapaan dengan membawa rombongan orang dari berbagai daerah.

“Rojab itu aslinya warga Desa Pekasiran, Kecamatan Batur (Kabupaten Banjarnegara). Dia itu dukun dulunya di kampungnya. Dukun royal,” kata Mbah Surip.

Royal yang dimaksud Surip tidak merujuk pada istilah orang yang suka memberi, melainkan centil. “Royal itu apa ya, genit. Ya seperti itulah, genit,” katanya.

Lantaran rekam jejak di desanya sudah jelek, Rojab hijrah. Namun dia tidak tahu ke mana Rojab hengkang.

Lima tahun lalu, Rojab sempat kembali ke Dieng Kulon dan menemui Ono. Ono adalah suami dari Ibu Uripah. Di depan rumah Ono inilah Mbah Fanani bertapa dalam tenda yang dibangun warga.

“Nah Rojab itu pernah bilang gini ke Ono. ‘No, kita manfaatin Mbah Fanani yuk’. Tetapi ajakan itu tidak digubris sama Ono,” terangnya. (*)

Editor : Puspito Hadi

Sumber : merdeka.com

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.