Mahasiswa UMM Olah Limbah Produksi Tahu Menjadi Pupuk Organik

0

MEDIA MALANG – Dua Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil membuat inovasi baru, dengan mengolah limbah produksi tahu menjadi pupuk organik yang baik untuk tanaman. Produk itu diberi nama Vegedrilla.

Dua mahasiswa itu bernama Nasihul Mukmin dan Sarabila Karima, dari Program Studi (Prodi) Agribisnis dan Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM.

Nasihul mengungkapkan, ide tersebut tercetus dari keresahan akan fenomena alih fungsi lahan yang mengakibatkan terbatasnya ruang untuk menanam tanaman.

“Kami juga mendapatkan data bahwa konsumsi sayuran mengalami peningkatan. Oleh karena itu kami berfikir bagaimana caranya bisa menciptakan inovasi yang sesuai dengan kedua kondisi tersebut,” katanya pada wartawan, Sabtu (7/7).

Hasil inovasi tersebut dinamai dengan Vegedrilla, yang merupakan inovasi terdiri dari kombinasi pemanfaatan limbah tahu sebagai pupuk organik bagi tanaman microgreen, hydrilla dan juga hidrogel.

Ia menambahkan, hasil dari pengolahan limbah tahu menjadi pupuk organik tersebut dirasa cocok dan terbukti mampu meningkatkan nilai nutrisi tanaman yang menggunakan pupuk tersebut.

Microgreen yang merupakan salah satu jenis tanaman konsumsi bisa memiliki nutrisi yang lebih tinggi bila menggunakan pupuk organik dari limbah tahu ini,” jelasnya.

Terobosan tersebut juga terpilih sebagai juara pertama dalam ajang Agrifasco 2018 yang diadakan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Januari 2018. Tim UMM berhasil menjadi juara setelah mengalahkan berbagai inovasi lain dari seluruh universitas di Indonesia yang berpartisipasi dalam ajang tersebut.

“Dari 10 finalis yang presentasi, alhamdulillah akhirnya UMM yang keluar sebagai juara. Disusul Universitas Tanjung Pura dan Universitas Gajah Mada di tempat ketiga,” ungkap Nasihul bangga.

Sementara itu, dosen pendamping tim LKTI ini, Erfan Dani Septia, mengakui bahwa capaian mahasiswanya ini merupakan hasil yang luar biasa. Juara tersebut awalnya bukanlah target utama, namun hasil ini menjadi bonus usaha yang selama ini dilakukan.

“Saya selalu menekankan pada mahasiswa bahwa yang terpenting adalah kita bisa berproses dengan baik. Soal bagaimana hasilnya nanti itu sekedar bonus saja,” tuturnya.

Erfan menambahkan bahwa karya mahasiswanya ini dianggap sebagai salah satu bentuk inovasi tepat guna oleh juri. Faktor tersebut yang akhirnya menjadi nilai plus pada saat sesi penilaian.

“Itu jugalah yang akhirnya membawa mahasiswa UMM keluar sebagai juara,” pungkas dia. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor : Puspito Hadi

Comments are closed.