Mahasiswa UMM Ini Buat mesin Pengayak Padi

0

MEDIA MALANG – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan alat alternatif pengayak padi yakni “Screentel Padi”, untuk memisahkan bulir padi dari gagangnya.

Cyntia Fea Saputri, salah satu anggota kelompok pembuat Screentel mengemukakan, alat ini hadir di antara teknologi konvesional dimana petani masih manual merontokkan padi dengan tangan dan memanfaatkan penggunaan mesin berbahan bakar BBM.

Alat ini juga didesain istimewa, tidak membutuhkan bahan bakar untuk pengoperasiannya. Selain hemat energi, risiko cedera otot yang dialami petani karena cara tradisional juga dapat diminimalisir.

“Screentel padi sebagai alat pengayak padi yang di desain ergonomis untuk mengurangi cidera otot pada sebagian petani yang setiap hari mengayak padi secara tradisional,” ujar Cyntia pada wartawan, Rabu (13/6).

Cyntia menambahkan, alat ini juga memiliki berbagai kelebihan, dimana penggunaannya cukup mudah. Petani hanya perlu mengayuh pedal di alat dan nantinya otomatis dapat bekerja sendiri dengan gir maju mundur. Gir tersebut juga bisa disetting sesuai yang diinginkan.

“Dengan demikian, alat ini dapat meringankan petani terutama mereka yang masih tradisional dan menggunakan sabit. Meski terkesan sederhana, hasil pemisahan bulir padi yang dihasilkan sama kualitasnya dengan mesin berbahan bakar,” ungkap dia.

Screentel Padi ini sudah pernah diikutkan lomba di Universitas Sebelas Maret Surabaya pada acara Descomfirst 2018 dengan tema Desain Manual Tools pada 5-6 Mei 2018.

Ia dengan timnya sangat bangga, sebab alat tersebut bisa membantu petani.

“Bahagia karena hanya dengan berawal dari sebuah coretan berhasil membuat alat yang seperti ini, kami juga berusaha memperbaiki apa saja yang masih kurang pada alat ini,” paparnya.

Cyntia mengaku, dengan tim saat ini telah merencanakan untuk masa depan alat ini. Ke depan, alat ini ingin dipatenkan dan bisa dipasarkan dengan harga yang cukup bersahabat bagi petani.

“Rencananya nanti jika dikomersilkan akan kami jual dengan kisaran harga 1,5 hingga 2 juta rupiah,” tutupnya. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor : Puspito Hadi

Comments are closed.