Viewed 144 Times

Mahasiswa UB Buat Penyaring Udara Kotor

0

MEDIA MALANG – Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, berhasil membuat Automatic Sedot Asap Polusi (A.S.A.P), sebuah penyaring udara kotor. Alat ini dibuat sebagai salah satu solusi atas permasalahan kabut asap yang terjadi hampir setiap tahun karena kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera.

Lima mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UB itu antara lain Bagus Prasetyo, Hedy Pamungkas, Rafi Fajar Hidayat, Fungky Pandu Fantara dan Yandra Charlos.

Bagus mengemukakan A.S.A.P adalah smart device yang otomatis akan menyedot udara kotor atau polusi yang terdeteksi di udara. A.S.A.P memiliki tiga sensor yang berfungsi untuk mendeteksi asap, karbon monoksida dan suhu udara. Alat kerja alat ini, setelah mendeteksi adanya polusi dalam udara, alat akan aktif menyedot udara kemudian menyaringnya dalam empat tahapan penyaringan.

“Pertama penyaringan dilakukan dengan busa yang kerapatannya cukup renggang, dilanjutkan dengan Pre-Filter, lalu ada PreCarbon-Filter dan yang terakhir disaring dengan carbon yang tingkat kerapatannya tinggi serta memiliki fungsi menghilangkan bau,” jelas Bagus, kepada wartawan, Jumat.

Selain itu, A.S.A.P juga dirancang dengan konsep ramah lingkungan yang memanfaatkan panel tenaga surya sebagai sumber tenaga penggerak. Alat ini jugamemiliki kemampuan untuk menganalisa kualitas udara yang telah disaring lalu mengirimkan data hasil analisa tersebut ke internet untuk dapat diakses oleh masyarakat. Melalui internet pengguna akan dapat mengetahui kadar polusi sebelum dan sesudah dilakukan penyaringan udara.

Bagus dan timnya juga mengaku telah membuat software untuk mengakses hasil data analisa udara tersebut untuk berbagai platform, antara lain dalam bentuk website, aplikasi mobile android dengan nama A.S.A.P apps, dan juga Twitter for A.S.A.P.

Berkat karyanya tersebut Bagus bersama tim telah dinobatkan sebagai juara satu kategori hardware pada ajang Blue Techno Festival di Bandung awal bulan Februari 2016. Pada perhelatan besar tersebut Bagus beserta timnya bersaing dengan 16 tim lainnya dari berbagai universitas di Indonesia, antara lain Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Telkom dan Trisakti.

Bagus juga menambahkan, akan terus melakukan pengembangan pada alatnya tersebut untuk diikutsertakan lagi pada ajang kompetisi yang lebih besar. “Kami senang, karena awalnya tidak menyangka akan mendapatkan juara satu. Kami tadinya hanya berpikir untuk sekedar mencari pengalaman sebelum mengikuti kompetisi yang lebih besar seperti GemasTIK atau Comfest dan PKM,” ujar Bagus. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor   : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.