Mahasiswa Ini Sulap Becak Jadi Usaha Kopi

0

MEDIA MALANG – Tiga mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuat ide kreatif, menyulap becak menjadi tempat usaha kopi. Dengan mengusung brand “Becak Koling” alias becak kopi keliling, ketiganya mampu mandiri.

Ketiga mahasiswa itu adalah Nasihudin Cahya, Awang Ristanto, dan Helmi Mahendra. Mereka awalnya ingin menambah uang saku. Karena skuka kopi, akhirnya ketiganya sepakat membuat usaha terkait kopi.

Awang mengungkapkan, berwirausaha merupakan jalan untuk menyalurkan kecintaan pada kopi. “Awalnya saya sama Cahya suka kopi, lalu ikut-ikut dan belajar membuat kopi sama teman, kemudian muncullah ide kenapa gak buka sendiri saja,” ungkap mahasiswa Program Studi Perternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM tersebut, Jumat.

Awang mengajak serta dua rekannya itu. Ketiganya sepakat memanfaatkan becak milik Cahya sebagai tempat untuk berjualan dengan mengusung brand “Becak Koling”.

“Becak itu punya Cahya yang duluan punya usaha,” ujar Awang.

Ia mengakui, beragam hambatan menjadi wirausahawan cukup banyak. Untuk memulai usahanya, mereka patungan dengan uang dari kantong sendiri. Saat usaha berjalan, sering tidak ada pembeli, sehingga pendapatan nyaris tidak ada.

Namun, hal itu menjadi penyemangat untuk tidak berhenti di jalan, melainkan tetap melanjutkan usaha.

“Pernah sampai di lokasi terus hujan deras, sepi gak ada yang beli,” ujarnya.

Walaupun hanya berjualan kopi, Helmi, mengaku omzet yang dikantongi selama berjualan setiap bulannya cukup lumayan. Keuntungan dari berjualan selain dibagi, juga disisihkan untuk membeli beberapa alat baru. Bahkan, dirinya menargetkan ke depan ingin punya lahan sendiri untuk jualan, sehingga tidak perlu pindah-pindah.

“Untung yang didapat buat beli alat-alat baru dan kalau bisa tahun ini bisa punya lahan walaupun kecil yang penting menetap,” harap Helmi.

Helmi juga mengaku tidak malu untuk berjualan. Terlebih lagi, di era modern seperti ini, setiap individu harus mengetahui peluang-peluang yang bisa diambil. Menurut dia, berbisnis tidak selalu harus relevan dengan jurusan kuliah ditempuh.

“Tidak ada salahnya untuk mencari pengalaman di bidang lain,” tandas mahasiswa PBSI UMM itu.

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat ini memang mencetuskan program UMM PASTI, yaitu PASTI lulus empat tahun, PASTI bekerja, dan PASTI mandiri. Fauzan yakin, UMM PASTI akan menjamin lulusan UMM dapat mandiri.

Kepala Program Studi (Kaprodi) PBSI UMM Sugiarti mengungkapkan, untuk program UMM PASTI, di Prodi PBSI juga terdapat mata kuliah kewirausahaan bersastra dan kewirausahaan berbahasa. Selain itu, pihaknya juga melakukan pemetaan peminatan mahasiswa. Untuk mahasiswa yang memiliki minat di luar bidang Prodi, maka bisa bekerja sama dengan lintas prodi dan lintas fakultas.

“Jika mahasiswa memiliki keterampilan di bidang fisik juga akan kami carikan sumberdaya,” tambahnya.

Menanggapi usaha Becak Koling Sugiarti mengaku bangga. Ia bahkan memberikan masukan untuk mengembangkan usaha lebih luas, termasuk merangkul dan bekerjasama dengan pihak lain, misal mengisi stand di sebuah acara. Mereka juga bisa membuka mini forum saat berjualan di kegiatan kampus contohnya ngopi sastra, ngopi linguistik.

“Ini akan menciptakan atmosfer akademik yang ada aspek kreatif dan rekreatif, jadi proses transfer pengetahuan tidak terjadi secara formal saja namun juga secara informal,” pungkasnya. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor : Puspito Hadi

Comments are closed.