Viewed 541 Times

Lampu Hemat Energi Berbahan Bakteri

1085

MEDIA MALANG– Tiga mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) Elok Fitriani Tauziat, Nurhasna Fauziyyah, dan M. Alfian Arifin memanfaatkan bakteri Bioluminescene menjadi lampu hemat energi.

Satu lampu Biolie mampu menghasilkan 10.68 watt yang mampu menerangi ruangan hingga 68 meter.

Daya terang lampu bahkan bisa ditambah dengan memperbanyak bakteri didalamnya.

Berkat kreativitas mereka, UB memberikan penghargaan setara emas dalam kompetisi PKM Maba UB 2015.

Dikatakan oleh Elok bahwa lampu hemat energi dibuat untuk mengatasi krisis energi listrik seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia.

“Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, maka kebutuhan energi juga semakin meningkat. Sebaliknya ketersediaan pasokan energi listrik masih belum mampu memenuhi kebutuhan kita. Oleh karena itu, kita berinisiatif untuk menciptakan lampu hemat energi berbasis bakteri Bioluminescence,” kata Elok.

Bakteri Bioluminescence merupakan bakteri yang menempel didalam tubuh cumi-cumi. Bakteri ini mampu mengeluarkan cahaya biru didalam tubuhnya.

“Dalam proses pembuatannya kami mengisolasi bakteri dari tubuh cumi-cumi lalu mengkulturnya kemudian kita masukkan kosentrasinya. Untuk satu alat biolie memiliki konsentrasi 4,6×109 CFU/ml,” ungkap Elok.

Alfian menambahkan, untuk menjadi sebuah lampu, bakteri dimasukkan kedalam sebuah alat bernama biolie. Alat biolie ini antara lain terdiri dari lensa mika, serbuk kayu yang dipadatkan, aerator yang tidak memakai listrik dan air laut.

“Agar lampu ini bisa terus bercahaya, bakteri diberi nutrisi berupa bahan organik dari sayuran yang difermentasi. Sayuran dicacah halus kemudian diberi kecap, gula, dan EM4 lalu dikeringkan,” tambahnya terpisah.

Lampu Biolie yang diciptakan oleh ketiga mahasiswa FPIK tersebut mempunyai beberapa keuntungan, yaitu ramah lingkungan karena cahaya yang dihasilkan tidak menimbulkan panas, pengaplikasiannya lebih mudah karena bisa disandarkan didinding atau ditaruh dimeja, dan ekonomis karena bisa digunakan seumur hidup.

“Karena berbasis bakteri Bioluminescence, maka bakteri yang akan mati menimbulkan indukan baru,” tutupnya.

Penulis : Putra Ismail
Editor   : Laily Noor Hidayah

Komentar Anda

Komentar

Leave A Reply