Korban Tewas Gempa dan Tsunami Sulteng Hingga Minggu Capai 1.944 Jiwa

0

JAKARTA, MEDIAMALANG.COM – Jumlah korban yang meninggal dunia musibah gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, hingga Minggu pukul 17.00 WITA tercatat mencapai 1.944 orang.

Kepala Penerangan Komando Tugas Gabungan Terpadu Sulawesi Tengah Kolonel Inf. Muh Thohir menjelaskan bahwa 815 jenazah korban bencana dikubur secara massal di Poboya, 35 jenazah dikubur massal di Pantoloan, dan 1.059 jenazah telah dimakamkan oleh keluarga masing-masing.

Selain itu ada 35 jenazah korban yang dimakamkan di Donggala dan delapan jenazah yang dimakamkan di Biromaru, Kabupaten Sigi.

“Sementara jumlah korban luka-luka tercatat 2.549 orang, korban hilang 683 orang, dan jumlah pengungsi 74.444 orang. Bencana juga menyebabkan 65.733 rumah rusak,” kata Thohir seperti dilansir Antara, Minggu (8/10).

Thohir, yang juga Kepala Penerangan Kodam XIII/Merdeka menjelaskan pihaknya berhasil mengevakuasi 20 mayat di Kelurahan Petobo, salah satu wilayah yang menjadi terisolir akibat gempa.

Puluhan Anak Dilaporkan Hilang

Sekretariat Bersama (Sekber) Perlindungan Anak Kementerian Sosial di Palu, Sulawesi Tengah, menerima laporan lebih dari 50 anak yang hilang saat bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah.

“Hingga hari ini tiga anak yang terpisah dari keluarganya sudah berhasil dipertemukan kembali,” kata koordinator Sekber Perlindungan Anak Febriadi seperti dilaporkan Antara.

Menurut Febriadi, laporan anak yang hilang atau terpisah dari keluarga diterima baik dari registrasi langsung di sekber, maupun hasil aduan melalui jejaring sosial media (Facebook, whatsapp), juga selebaran.

Satu anak yang berhasil direunifikasi (dipertemukan kembali) dengan keluarganya pada Sabtu (6/10) semula berada di rumah sakit, setelah selamat dari bencana. Sekber yang menerima laporan, lalu mencari dan menemukannya, untuk kemudian dipertemukan dengan keluarganya.

“Sebelum dipertemukan dengan keluarganya, kami menempuh sejumlah prosedur,” katanya.

Menurut Febriadi, bila masuk laporan terkait anak hilang, maka sekber akan menyebarkan foto anak dengan menggunakan berbagai saluran informasi.

“Misalnya melalui jaringan relawan yang ada di sini. Atau kami menyebarkan foto di sejumlah tempat termasuk posko-posko bantuan tanpa mencantumkan identitas,” katanya.

Pengaduan anak hilang juga dibuka di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BRSPDI) Nipotowe Palu. Data sampai Minggu (7/10) menunjukkan telah masuk pengaduan di balai ini sebanyak 10 orang anak hilang atau terpisah dari orangtuanya.

Pencarian Korban Ditargetkan Selesai 11 Oktober

Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan pencarian korban gempa Donggala dan tsunami ditargetkan selesai pada 11 Oktober 2018.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan target itu sesuai dengan masa tanggap darurat yang ditetapkan dan diharapkan tidak ada daerah yang terisolir, tidak ada kekurangan bantuan, dan daya dukung masyarakat normal.

“Artinya aktivitas masyarakat kembali normal,” kata Sutopo di Kantor BNPB, Jakarta, Minggu.

Sutopo menuturkan hingga saat ini seluruh tim gabungan untuk pencarian dan penyelamatan korban terus melakukan proses evakuasi korban.

Ia mengatakan terhitung dari gempa Donggala berkekuatan 7,4 skala richter pada 28 September lalu, maka masa tanggap darurat menjadi 14 hari hingga 11 Oktober 2018.

“Kalau korban tidak ditemukan sudah 14 hari sehingga dalam hal ini dinyatakan hilang,” ujarnya.

Meskipun evakuasi ditargetkan selesai pada 11 Oktober 2018, namun proses pencarian masih akan dilakukan namun bersifat terbatas, tidak besar-besaran seperti saat ini karena sebagian sumber daya seperti personil dan peralatan akan dialihkan untuk melakukan pemulihan wilayah.

“Bukan berarti total tidak dilakukan pencarian, tetap dilakukan pencarian cuma kekuatan baik personil maupun peralatan dikurangi,” ujarnya.

Kemudian, personil-personil yang awalnya melakukan pencarian korban, bisa melakukan aktivitas yang lain seperti perbaikan dan pembersihan puing-puing bangunan .

“Ini memerlukan waktu dan tenaga yang cukup besar untuk membersihkan puing-puing bangunan agar masyarakat tidak stress,” tuturnya.

Ia menuturkan belum semua daerah bisa diakses terutama jalan ke desa-desa yang terisolir akibat akses terputus karena material longsor. Meski demikian, perbaikan darurat terus dilakukan sehingga mendorong kemudahan distribusi logistik dan akses yang lebih baik bagi masyarakat.

“Bahkan personel memberikan bantuan dengan jalan kaki,” tuturnya. (*)

Editor : Puspito Hadi

Sumber : cnnindonesia, antara

Comments are closed.