Kebakaran di Gunung Bromo Ancam Hutan Zona Inti di Coban Trisula

0

MEDIA MALANG – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS), Kota Malang, menyatakan bahwa kejadian kebakaran lahan di Gunung Bromo bisa mengancam kawasan hutan zona inti di Coban Trisula, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Kepala BB-TNBTS John Kenedie mengatakan petugas gabungan melibatkan polisi, relawan dan warga setempat terus berusaha memadamkan api di lahan seluas 60-70 hektare.

Seluruh personel gabungan itu berusaha membendung kobaran api yang membakar savana agar tidak meluas hingga merembet ke kawasan hutan zona inti tersebut.

“Personel gabungan berusaha membendung kobaran api, sebab di zona itu menjadi habitat satwa langka di antaranya elang jawa, harimau tutul dan burung-burung liar. Dampak dari kebakaran lahan juga memaksa petugas menutup wisata di Coban Trisula,” kata John, Senin (3/9).

Kejadian kebakaran lahan itu pada Minggu (2/9), di Blok Plentongan Resort PTN Tengger Laut Pasir berbatasan dengan Blok Jemplang Resort PTN Wilayah Coban Trisula, Kabupaten Malang. Namun, penyebabnya masih diselidiki.

Menurut John, ada dugaan warga setempat mencari kayu bakar, burung liar dan tanaman obat di hutan pada malam hari. Mereka membuat perapian, lantas ditinggal begitu saja tanpa dipadamkan lebih dulu. Akhirnya membakar savana kawasan setempat.

“Yang jelas lokasi kebakaran dekat Jemplang, sedangkan asal api itu bukan dari tempat umum,” ujarnya.

Hingga kini masih terlihat sejumlah titik api. Kebakaran tersebut sulit dipadamkan, sebab vegetasinya berupa serasah, alang-alang dan tanaman adas yang mengering.

Api cepat menyebar karena angin bertiup cukup kencang. Selain itu topografinya di lereng bukit dengan kemiringan 45-60 derajad. Akibat kejadian itu tanaman cemara gunung dan akasia juga ludes terbakar.

“Kebakaran terus meluas dari lembahan Gunung Bromo ke Gunung Watangan dan Jemplang mengikuti pergerakan angin yang kencang,” katanya.

Sampai Minggu (2/9) malam, upaya pemadaman dihentikan sementara. Namun petugas disiagakan agar api tidak merembet ke arah Bantengan. Karenanya sebanyak 19 personil dibagi untuk berjaga di Blok Jemplang dan Blok Watugede.

Memasuki pemadaman hari kedua, jumlah personel ditambah menjadi 400 orang. Mereka melakukan pemadaman di Jemplang, Watugede, Savana Telletubis atau kaki jenggot dengan dukungan 5 unit mobil bigbon dan satu unit kendaraan pengangkut air berkapasitas 4 ribu liter. Akhirnya, api di savana telletubis bisa dikendalikan, tapi di Gunung Watangan masih terlihat kepulan asap putih.

Sementara itu, menurut data hotspot yang bersumber Hotspot Information Land Forest Alert Satelit LAPAN menyebutkan kebakaran hari pertama terlihat 8 titik hotspot, memasuki hari kedua sudah mencapai 274 titik hotspot. Terkini hanya tinggal 6 titik api.

“Pemadaman dilakukan secara manual dengan gopyok dari ranting tanaman, mudah-mudahan Selasa sudah padam seluruhnya,” pungkas dia. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor : Puspito Hadi

Comments are closed.