Karang Taruna Desa Sukses Kelola Wisata Alam Di Kampung Tusuk Sate

0

MEDIA MALANG – Waktu menunjukkan pukul 12.30 WIB, hujan deras membasahi Dusun Besuki, Desa Wringin Anom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Orang mengenal desa ini merupakan desa tusuk sate, karena masyarakatnya bekerja membuat tusuk sate dari bambu.

Di Desa ini pula juga terdapat kampung wisata yang dikelola sejumlah anak – anak muda yang tergabung di Karang Taruna Trisula. Semua berprofesi sebagai buruh tani di desanya, mulai dari buruh tani untuk merawat tanaman apel, slada air, maupun tebu.

Di rumah petak berukuran 4×2 meter persegi itu, para muda-mudi berkumpul dan beraktivitas. Mereka terlihat sibuk menyiapkan peralatan tubing, seperti ban dalam truk, baju pelampung, dan helm untuk menyambut siapapun yang datang di kampung wisata ini.

Sedangkan, tiga orang pemuda lainnya berada di saung (Gazebo) sambil menyeduh kopi di atas lahan seluas 1500 meter persegi. Spanduk besar bergambar kegiatan wisata air bertuliskan “River tubing pelangi” terpampang di pintu masuk kampung wisata Dusun Besuki ini.

Spanduk besar tersebut merupakan tanda berdirinya markas atau “Basecamp” Wisata River Tubing Pelangi, yakni basecamp yang melayani jasa wisata alam adrenaline di sungai dengan menggunakan ban dalam truk atau biasa disebut dengan tubing.

“Wisata tubing ini dikelola karang taruna desa bernama Karang Taruna Trisula,” kata salah seorang pengurus wisata river tubing pelangi, Ali Murtadlo, membuka obrolan saat bersama Media Malang, Rabu (20/6).

Menurut Ali, berdirinya kampung wisata tubing tersebut berawal dari perkembangan wisata di Kecamatan Poncokusumo yang begitu pesat. Apalagi, Poncokusumo merupakan jalur utama wisatawan dari Kabupaten Malang, menuju Gunung Bromo maupun Gunung Semeru.

Semakin berkembangnya wisatawan ke Gunung Bromo dan Semeru, membuat sejumlah pemuda desa itu ingin memanfaatkan Sungai Amprong di lereng Gunung Semeru menjadi arena wisata alam untuk pemberdayaan ekonomi warga sekitar.

Karena terkendala modal, akhirnya para pemuda desa ini pun mempunyai inisiatif bekerjasama dengan mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Dengan harapan wahana wisata tubing yang akan dibangunnya tersebut bisa mendapatkan dana dari perguruan tinggi melalui Program Hibah Bina Desa (PHBD) 2017 dari Kemenristek Dikti. Akhirnya terpilihlah Universitas Islam (Unisma) Malang, sebagai pembina wisata tubing.

Hasilnya, kerjasama dengan Unisma membawa keberuntungan bagi karang taruna Trisula. Dana hibah pun turun setelah melalui proses seleksi ketat.

“Wisata tubing tersebut berdiri sejak Juni 2017, setelah mendapat bantuan dari Dikti melalui Program Hibah Bina Desa (PHBD) sebesar Rp. 40 Juta. Kita juga mendapatkan dana dari ADD Rp. 5 juta,” ungkapnya.

Membangun Wahana Wisata

Lega proposal diterima, dana bina desa sebesar Rp.40 Juta dari Kemenristek Dikti pun cair. Pemuda Dusun Besuki berjumlah 14 orang tersebut kemudian gotong royong membersihkan sungai kotor dan membangun arena wisata alam tubing dengan membuat trip atau jalur perlintasan di Sungai Amprong.

Mereka pun juga menyewa lahan milik warga untuk basecamp dan membeli peralatan tubing. Termasuk membangun gubug, saung, kamar mandi dan toilet.

“Seluruh dananya kami gunakan untuk sewa lahan, membangun basecamp beserta fasilitasnya serta membeli peralatan tubing,” kata Ali.

Ali menjelaskan sejak wisata river tubing pelangi berdiri, dia bersama teman – temannya gencar melakukan pemasaran melalui media sosial. Berbekal, telephone genggam, mereka tak pernah bosan mempromosikan wahana wisata miliknya. Pemasaran dilakukan melalui medsos misalnya instagram, twitter, facebook. Setiap kegiatan juga selalu diunggah.

Hasilnya, sampai saat ini hampir 800 wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun domestik berkunjung dan bermain tubing di kampung wisata Dusun Besuki. “Pertama kali bermain tubing ditempat kami wisatawan dari Malaysia. Waktu itu jumlahnya 30 orang,” ujarnya.

Sedangkan, bagian pemasaran River Tubing Pelangi, Isa, mengatakan untuk tarif bermain tubing, dipatok harga Rp.100 Ribu per orang sesuai dengan trip jarak tempuh sungai mulai dari jarak 1,5 kilometer sampai 2 kilometer.

Menurutnya, harga ini sudah termasuk fasilitas peralatan tubing, keamanan, servis, transportasi antar jemput pengunjung. Bahkan, makanan dan minuman.

“Kami juga berikan suvernir unik ke pengunjung berupa sandal terbuat dari tanaman enceng gondok. Sandal dari enceng gondok ini buatan teman – teman karang taruna sendiri,” paparnya.

Isa mengungkapkan sejak wisatawan dari berbagai daerah mulai berdatangan ke wahana wisatanya, perekonomian warga mulai meningkat. Selain menjual makanan dan minuman, banyak rumah warga yang disewakan ke wisatawan yang ingin bermain tubing atau ke Gunung Bromo menginap di desanya maupun menggunakan jasa angkut bagi warga yang mempunyai kendaraan jeep.

“Tarif menginap di rumah warga biasanya Rp.200 Ribu,” katanya.

Sementara itu, wisatawan dari Petamburan Jakarta Barat, Azis Ajiantoro bersama rombongan keluarganya berkunjung ke lokasi tempat ini. Mereka mencoba bermain tubing dan menyusuri aliran sungai amprong sejauh 1,5 km yang begitu deras.

Dia mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan pengelola tubing pelangi. “Servisnya memuaskan,” katanya.

Mengelola Keuangan

Sukses berdaya di wahana wisata alam tubing, Karang Taruna Trisula mengelola keuangan dengan ketat. Setiap bulan, rata – rata minimal mereka mengaku mendapatkan 3 juta bersih. Dana itu dikelola untuk kebutuhan operasional wahana wisatanya. Sebagian digunakan untuk memakmurkan desanya.

“Sebagian hasil dari mengelola wisata kami gunakan untuk membantu pembangunan masjid, mushala, anak yatim piatu, maupun kegiatan warga,” kata Isa.

Rencananya, jika dana hasil mengelola wisatanya sudah terkumpul banyak, mereka akan mengembangkan wahana wisatanya. Selain tubing ada wahana permainan wisata lainnya.

“Angan – angan kami ingin mengembangkan wisata dengan berbagai wahana permainan alam lainnya. Mulai dari permainan anak tradisional, sampai membuka kafe kopi di basecamp yang buka pagi hingga malam hari dengan fasilitas wifi. Saya ingin anak- anak muda yang berkeliaran dengan motor kesana-kemari tanpa tujuan datang ke basecamp kami, belajar dan nongkrong disini,” tambah Ali.

Tidak Ingin Lepas Dari Buruh Tani

Sukses mengelola tempat wisata bukan berarti harus meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai buruh tani. Bagi sebagian anak – anak karang taruna trisula, bertani adalah jalan hidup dan masa depan mereka. Sehingga dia tidak bisa meninggalkan pekerjaan bertani yang ditekuni sejak kecil.

Salah satu pemuda desa, Rizal Husni mengaku, meskipun dia dan teman – temannya berhasil mengelola tempat wisata tubing, ia tidak ingin meninggalkan profesinya sebagai buruh tani. Alasannya, pendapatan dari hasil buruh tani bisa diperolehnya setiap hari. Sedangkan, pendapatan mengelola wisata tubing diperoleh jika ada tamu datang.

“Setiap hari menjadi buruh tani saya mendapatkan gaji Rp.30 Ribu. Sedangkan, di tubing jika ada tamu saja saya mendapatkan Rp. 40 Ribu. Saya tidak ingin beralih profesi. Alhamdulillah keberadaan wisata ini sangat membantu kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Hasil kerja ini saya gunakan untuk membantu orang tua, sisanya ditabung untuk modal tani,” pungkasnya.

Ia dengan teman-temannya berharap, perjuangan membangun wahana wisata tubing ini mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Malang. Perhatian dari pemerintah kabupaten, khususnya Dinas Pariwisata masih nisbi. Padahal, wahana wisata Tubing Pelangi sudah dikenal wisatawan mancanegara maupun dari berbagai daerah.

Dinas Pariwisata dinilai warga tidak respon terhadap para pemuda desa yang membangun dan mengembangkan potensi pariwisata di Kecamatan Poncokusumo.(*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor : Puspito Hadi

Comments are closed.