Viewed 265 Times

Jokowi ke Gontor, Pimpinan Pondok Tegaskan Tidak Berpolitik

0

MEDIA MALANG – Presiden RI Joko Widodo menghadiri resepsi tasyakuran peringatan 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Senin, 19 September 2016. Selain bersama sejumlah menteri dan tokoh nasional, Ibu Negara Iriana Jokowi turut hadir dalam acara itu. Kedatangan Jokowi beserta istri memberi kesan tersendiri bagi pihak pondok.

Salah seorang pemimpin pesantren, KH Abdullah Sahal, mengatakan bahwa selama ini Presiden RI sebelum Jokowi hanya datang ditemani sejumlah pejabat negara tanpa mengajak istri. “(Presiden) ini lain dari yang lain, Ibu Negara hadir di sini,” kata Abdullah saat memberikan sambutan di hadapan para undangan, santri, wali santri, dan alumnus pondok dilansir dari tempo.co.

Karena itu, ia meminta Ibu Negara Iriana tampil di hadapan para undangan. “Kedatangan Presiden dan Ibu Negara membuat kami merasa masih dihargai. Mohon berdiri,” ujar Sahal yang disambut tepuk tangan hadirin di aula pondok tempat berlangsungnya resepsi.

Abdullah berharap agar Jokowi bisa datang lagi ke Pondok Gontor pada waktu mendatang. “Kalau Bapak Presiden ke sini tiga kali, biasa,” kata Abdullah, setengah bercanda.

Kunjungan Jokowi ke Pondok Gontor untuk pertama kalinya adalah saat peringatan pesantren itu yang ke-90. Dalam kunjungan itu, Jokowi didampingi sejumlah pejabat negara, di antaranya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang juga alumnus Pondok Gontor dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan.

Hadir pula Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (alumnus Pondok Gontor), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo beserta istri.

Ini komentar pimpinan pondok

Pimpinan dan Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menegaskan kepada Presiden Joko Widodo pondok sangat anti penjajah dan penjajahan.

Kiai Hasan mewakili pimpinan pondok lainnya, KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan KH Syamsul Hadi Abdan, menerangkan Pondok Modern Gontor sudah melewati zaman penjajahan dari era Belanda, Jepang, Inggris dan bertahan sampai sekarang sampai menginjak usia 90 tahun.

“Alhamdulillah pondok selalu bersama Pemerintah, bersama bangsa Indonesia mendidik bangsa ini supaya bangsa kita, umat kita, tetap anti penjajah dan penjajahan,” ujar Kiai Hasan dalam sambutan pidato di acara Resepsi Kesyukuran Peringatan 90 Tahun Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Senin (19/9/2016) dilansir tribunnews.com.

Presiden Jokowi hadir bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo. Turut bersama rombongan di antaranya Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Keluarga besar Pondok Modern Gontor, kata Kiai Hasan, sangat berbesar hati dan bertambah mental dengan kedatangan Presiden Jokowi untuk pertama kalinya ke pondok. Tradisi kedatangan orang nomor satu Indonesia sudah dimulai sejak Presiden ke-1 Republik Indonesia Soekarno.

“Kami mengucapkan selamat datang, masya Allah membesarkan hati, meninggikan mental kami semuanya. Bahwasannya kami masih dihargai, masih dihormati, masih dianggap ada dan eksis untuk bersama membina Republik Indonesia,” ungkap Kiai Hasan.

Kiai Hasan meyakinkan Presiden Jokowi, Pondok Modern Gontor dan pondok pesantren lainnya tetap bersama merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Eksistensi pondok pesantren menjadi garda terdepan berjuang untuk bangsa dan negara.

“UUD 45, Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika ada di depan kami semua. Insya Allah Gontor bukan hanya empat pilar, tapi puluhan pilar kebangsaan ada di sini, Tolong sampaikan kepada anak-anak kami biar menjadi warga negara yang baik berguna bagi nusa dan bangsa,” pesan Kiai Hasan untuk Presiden Jokowi.

Tak lupa Kiai Hasan menggarisbawahi ruh dan posisi pondok tidak berpolitik praktis. Pondok Modern Gontor sudah diwakafkan untuk umat Islam oleh tiga pendirinya atau Trimurti, yakni KH Ahmad Sahal (1901–1977), KH Zainudin Fananie (1908–1967) dan KH Imam Zarkasyi (1910–1985).

“Tidak di bawah partai apa pun juga, tidak di bawah golongan apa pun juga, tidak di bawah mazhab apapun juga, tidak di bawah tarikat apa pun juga, tidak di bawah suku, tidak di bawah miliknya keluarga. Ini sudah menjadi wakaf umat Islam seluruh dunia,” terang Kiai Hasan. (*)

Editor   : Puspito Hadi

Sumber : tempo.co, tribunnews.com

Comments are closed.