Jawa Tengah Juga Punya Makam Ki Ageng Gribig

437

MEDIA MALANG– Ternyata makam Ki Ageng Gribig tidak hanya di wilayah Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Melainkan juga ada di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Memang, di Desa Krajan yang masuk wilayah kecamatan ini, setiap tahun digelar ‘yaqowiyu’, sebuah ritual yang meneruskan tradisi dari Ki Ageng Gribig.

Di kecamatan yang sama, tepatnya di Dukuh Jatinom, Desa Jatinom, juga terdapat bangunan batu merah dan kayu yang dipercaya sebagai makamnya.

Riwayat Ki Ageng Gribig versi Jatinom sangat berbeda dengan yang dikisahkan masyarakat Kota Malang.

Ki Ageng Gribig versi Jatinom disebut sebagai putra Raden Mas Guntur atau Prabu Wasi Jaladara, versi lain menyebut, Ki Ageng Gribig adalah keturunan Maulana Malik Ibrahim yang silsilah kebawahnya menurunkan Maulana Ishaq, Sunan Giri, Sunan Prapen, dan Maulana Sulaiman (Ki Ageng Gribig).

Tokoh yang juga sering disebut sebagai Syekh Wasihatno itu menjadi pendakwah Islam dengan pusat di Desa Krajan, Jatinom, Klaten.

Dia juga termasuk tokoh yang berpengaruh karena memiliki hubungan dekat dengan Sultan Agung Hanyakrakusu-ma, Raja Mataram kala itu.

Bahkan Ki Ageng Gribig juga menikahi adik Sultan Agung yakni Raden Ayu Emas hingga dirinya mendapat kekuasaan penuh sebagai ulama dan pemimpin tanah perdikan Mutihan di Jatinom.

Konon, Ki Ageng Gribig mampu melakukan perjalanan dari Jatinom ke Mekkah dalam waktu sangat singkat. Saking singkatnya, disebut bagai melempar batu, sehingga dia dapat pulang pergi Jatinom-Mekkah setiap hari.

Suatu hari di Bulan Safar, saat kembali dari perjalannya ke tanah suci, dia membawa oleh-oleh kue. Karena jumlahnya tidak mencukupi untuk dibagikan kepada penduduk, ia bersama istri kemudian membuat lebih banyak kue sejenis.

Setelah jadi, sambil menyebarkan kue-kue kepada penduduk yang berebutaan, Ki Ageng meneriakkan “Ya Qowiyyu” (Tuhan, berilah kekuatan).

Kue tiruan dari Mekkah itu kemudian dikenal dengan nama apem, berasal dari kata bahasa Arab ‘Affan’ yang bermakna ampunan.

Tradisi menyebar kue apem yang dimulai oleh Ki Ageng Gribig sejak 1589 Masehi atau 1511 Saka itu kemudian diteruskan setelah dia meninggal du­nia, sesuai amanatnya.

Yaitu tradisi ‘Yaqowiyyu’ yang rutin digelar masyarakat setempat.

 

Penulis : Putra Ismail
Editor : Laily Noor Hidayah

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.