Viewed 24 Times

IAI Minta Profesi Akuntan Jangan Dimanfaatkan Perusahaan untuk Syarat Cari Utang

0

MEDIA MALANG – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) meminta profesi akuntan tidak dijadikan ajang perusahaan untuk kepentingan regulasi. Fenomena ini terungkap karena banyak perusahaan yang sengaja memanfaatkan kantor akuntan publik hanya untuk mengaudit keuangan mereka karena regulasi, yang salah satunya sebagai syarat kelengkapan mengajukan utang ke bank.

“Fenomena riil mereka perlukan kantor akuntan publik untuk kebutuhan regulasi, misalnya tidak bisa utang ke bank jika laporan keuangan tidak diaudit akuntan publik,” kata Ketua IAI Komda Malangraya Puji Handayati dalam acara lokakarya akutansi dan keuangan di mata jurnalis yang diselenggarakan di kantor Bank Indonesia Malang, Sabtu (05/08).

Ia mengungkapkan, sejumlah perusahaan bahkan nekat “Menjahitkan” laporan keuangan mereka dan meminta auditor untuk membetulkan laporannya agar mereka lolos pemeriksaan bank yang akan memberikan pengajuan kredit. Perusahaan mendatangkan konsultan meminta tolong dibetulkan laporan. Dengan itu, tujuan perusahaan hanya menggugurkan kewajiban, bukan karena ingin perusahaannya dikelola dengan benar atau tidak.

Adanya masalah tersebut, kata dia, juga menjadi dilema bagi pengelola akuntan publik. Di satu sisi, mereka (Akuntan) butuh pendapatan, tapi di sisi lain, mereka merasa tidak puas karena hasil kerja pun tidak maksimal.

Menurut Puji perusahaan yang suka mendatangkan auditor tersebut salah satunya perusahaan kecil yang mempunyai dana terbatas. Rata-rata perusahaan tersebut meminta audit secara asal-asalan, sehingga sangat beresiko. “Jika dana terbatas kualitas audit menjadi tidak bagus,” tandasnya.

Untuk itu, dia menegaskan kepada para akuntan untuk menjadi seorang akuntan yang kredibel dan profesional dalam menangani keuangan dan tidak serta merta hanya mengejar pundi-pundi rupiah dengan mengorbankan etika profesi. “Kami selalu menekankan etika profesi dan selalu bekerja secara profesional,” tuturnya.

Menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) seperti sekarang ini, tambah dia, seorang akuntan harus selalu menambah ilmu pengetahuan dan “Skill” dengan standart internasional. Di era MEA, profesi akuntan bakal makin keras berkompetisi, sehingga diharapkan akuntan harus melek teknologi.

Menurut dia, hal itu penting, karena bagaimanapun akuntansi dan teknologi ibarat mata uang yang tidak bisa dilepaskan seiring tingginya tuntutan masyarakat dunia usaha dan perkembangan global. “Kami harus selalu ‘Upgrading’ pengetahuan sesuai kebutuhan standart internasional,” ujarnya.

Di Indonesia, kata Puji, jumlah akuntan masih sangat sedikit ketimbang jumlah perusahaan, yaitu sekitar 7 persen, padahal idealnya minimal 30 persen. Dengan fenomena ini, Indonesia bisa terancam akan ada gempuran akuntan dari luar negeri. Mengantisipasi hal itu, diharapkan jumlah akuntan di Indonesia nantinya bisa semakin bertambah.

“Akuntan kita harus siap menghadapi persaingan dengan akuntan asing, terutama dalam menawarkan jasa profesinya. Kami siap bersaing. Akuntan Indonesia profesional, tidak kalah dengan mereka,” tutupnya.(*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor  : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.