Viewed 327 Times

Hay dan Silase Atasi Krisis Pakan Ternak

0

MEDIA MALANG – Dosen Fakultas Peternakan Pakar Nutrisi Hendrawan menganjurkan kepada peternak untuk menggunakan metode pengawetan berupa pengeringan rumput serta fermentasi mengatasi kebutuhan pakan ternak. Metode itu diklaim mampu mengatasi krisis pakan ternak yang sering terjadi, terutama saat kemarau.

“Pengenalan teknologi pengawetan sangat diperlukan bagi peternak rakyat, tujuannya mempersiapkan bahan makanan cadangan. Tidak hanya saat kemarau tetapi jika terjadi bencana alam,” ujarnya di Malang, Kamis, hari ini.

Ia mengatakan, saat kemarau cadangan pakan ternak yang segar sangat menipis. Banyak rumput dan daun yang tidak tumbuh subur, yang diakibatkan kekeringan. Kondisi ini membuat para peternak kelimpungan, sebab mereka harus rutin memberi pakan pada ternak mereka.

Ia menganjurkan peternak menggunakan metode hay dan silase guna mengatasi krisis pakan ternak ini. Dalam dunia peternakan, hay adalah rumput yang sengaja dikeringkan, sementara silase adalah hijauan segar yang difermentasi, dibuat dari tanaman yang dicacah disimpan dalam satu lubang menggunakan tower/drum kemudian dipadatkan untuk menghilangkan oksigen dan ditambahi tetes tebu.

Menurut dia, pengenalan teknologi pengawetan ini sangat diperlukan bagi peternak rakyat, tujuannya mempersiapkan bahan makanan cadangan, tidak hanya saat kemarau tetapi jika terjadi bencana alam. Silase pun awet disimpan hingga tahunan, dengan syarat tidak ada udara yang masuk.

Sejumlah perusahaan- perusahan besar seperti Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, lanjut dia, sudah menggunakan silase untuk cadangan pakan. Namun, hal itu belum diterapkan pada peternakan rakyat.

Mereka enggan memproduksi silase karena keterbatasan lahan dan tenaga kerja yang minim. Padahal, selain mempunyai stok hingga jangka panjang, gizi dari pakan juga tidak akan menurun dengan sistem ini.

Ia mengakui, selama ini keterbatasan lahan menjadi kendala utama dalam bidang peternakan di tengah padatnya jumlah penduduk. Krisis pakan bukan hanya terjadi di kemarau melainkan juga semakin menipisnya lahan. Hal ini memicu produksi hijauan juga berkurang.

Ia berharap pemerintah menjamin penerapan Undang-Undang Agraria tentang penyediaan lahan bagi peternak untuk pengembangan ternak. Selain itu integrasi antara Perhutani dan Peternak juga diperlukan, disamping pengelolaan kawasan untuk konservasi juga bisa ditanami tanaman leguminosa (kacang-kacangan).

Menurut dia, sebenarnya keterbatasan lahan bisa diakali dengan menggunakan sistem jimpitan. Peternak bisa mengawetkan tanaman saat produksi melimpah.

“Sebenarnya untuk keterbatasan lahan ini bisa diakali dengan mengugunakan metode jimpitan. Saat pakan melimpah para kelompok ternak harus menyisihkan sedikit pakan ternak, lalu secara kolektif dilakukan pengawetan,” pungkasnya. (*)

Editor : Puspito Hadi

Sumber : ub.ac.id

Comments are closed.