Viewed 10 Times

Halimah, Presiden Wanita Pertama Singapura asal Melayu

0

MEDIA MALANG – Halimah Yacob hari ini resmi ditetapkan sebagai Presiden Singapura yang baru. Halimah resmi mencetak sejarah sebagai wanita muslim pertama yang menjabat sebagai Presiden Singapura sepanjang sejarah negara ini.

Dilaporkan media lokal Singapura, Channel News Asia dan todayonline.com, Rabu (13/9/2017), berkas pencalonan yang diserahkan Halimah ke pusat pencalonan di markas People’s Association pada siang ini dinyatakan lengkap dan memenuhi syarat.

Begitu berkas dinyatakan lengkap, maka Returning Officer Ng Wai Choong langsung mengumumkan bahwa Halimah resmi menjabat Presiden ke-8 Singapura. Halimah menggantikan Tony Tan yang telah mengakhiri masa jabatannya pada 31 Agustus lalu.

Returning Officer merupakan pejabat di setiap konstituen atau daerah pemilihan, yang melakukan pemilu dan mengumumkan hasilnya.

Pengumuman yang disampaikan Ng Wai Choong itu disambut sorakan keras oleh ratusan pendukung Halimah yang menunggunya di gedung pusat pencalonan setempat.

Para pendukung Halimah yang berpakaian warna oranye, sama dengan pakaian yang dikenakan Halimah, berkumpul di markas People’s Association sejak Rabu (13/9) pagi waktu setempat. Halimah sendiri didampingi oleh suaminya Mohamed Abdullah dan para stafnya.

Selain mencetak sejarah sebagai wanita pertama yang menjadi Presiden Singapura, Halimah juga mencatatkan diri sebagai Presiden dari komunitas Melayu pertama dalam 47 tahun terakhir. Terakhir kali Yusof Ishak menjabat Presiden Singapura tahun 1965-1970.

Perlu diketahui, untuk tahun ini, pilpres Singapura secara khusus diperuntukkan bagi komunitas Melayu, artinya hanya anggota komunitas itu yang bisa mencalonkan diri. Sesuai Konstitusi, pilpres di Singapura bisa diperuntukkan khusus bagi salah satu komunitas jika tidak ada seorang pun dari komunitas tersebut yang menjabat Presiden dalam lima masa jabatan terakhir.

Saat ini, populasi Singapura terdiri atas 74 persen komunitas China, 13 persen komunitas Melayu, 9 persen komunitas India dan 3,2 persen komunitas lainnya. Dari lima kandidat yang mencalonkan diri, hanya Halimah yang dinyatakan memenuhi semua persyaratan dan mendapatkan Sertifikat Kelayakan dari Komisi Pemilihan Presiden (PEC).

Tanpa adanya pesaing lain bagi Halimah, maka tidak ada pemungutan suara di Singapura yang rencananya akan digelar 23 September mendatang. Dengan demikian, Halimah mencatatkan diri sebagai Presiden Singapura terpilih tanpa pemungutan suara.

Sementara itu, Halimah menyerukan agar kaum wanita berani bercita-cita setinggi langit.

“Ini adalah momen membanggakan bagi Singapura, bagi multikulturalisme dan multirasialisme,” ucap Halimah di depan ratusan pendukungnya yang berkumpul di Gedung Pusat Pencalonan Singapura, seperti dilansir todayonline.com.

“Ini menunjukkan bahwa multirasialisme bukan hanya slogan belaka, atau sekadar hal yang bagus untuk dikatakan atau didengar. Itu berarti multirasialisme sungguh-sungguh dipraktikkan dalam masyarakat kita, bahwa semua orang memiliki kesempatan untuk mencapai jabatan tertinggi di negara ini,” imbuhnya.

Halimah menambahkan, penetapan dirinya menjadi Presiden Singapura menjadi bukti bahwa komitmen Singapura pada keragaman gender tidak hanya simbolis semata. Halimah mencetak sejarah sebagai presiden muslimah pertama di Singapura.

“Setiap wanita bisa bercita-cita memegang jabatan tertinggi di negara ini jika Anda memiliki keberanian, tekad dan kemauan bekerja keras,” tuturnya di depan kerumunan pendukung yang bersorak-sorai.

Halimah menyadari berbagai kritikan yang menyerang pemilihan presiden tahun ini yang khusus diperuntukkan bagi komunitas Melayu. Beberapa kritikan bahkan menyebut Halimah sebagai ‘presiden terpilih yang tidak dipilih rakyat’. Kritikan itu merujuk pada fakta bahwa Halimah ditetapkan sebagai Presiden Singapura tanpa pemungutan suara, setelah empat kandidat capres lainnya gugur karena tidak memenuhi syarat.

“Saya tahu beberapa orang memiliki keraguan soal pilpres khusus, tapi saya berniat untuk mengabdi bagi semuanya tanpa keragu-raguan,” tegas Halimah.

“Meskipun ini adalah pilpres khusus, saya bukan presiden khusus. Saya presiden bagi semua orang, terlepas apapun rasnya, bahasanya, agamanya atau aliran kepercayaannya. Saya mewakili semua orang. Tugas saya hanya untuk Singapura dan rakyat Singapura, tugas saya hanya ada Anda,” tandasnya.

 

Editor : Puspito Hadi

Sumber : detik.com

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.