Empat Catatan Din Syamsudin

0

MEDIA MALANG– Seminar dan Lokakarya Nasional Dakwah Kultural di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditutup oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Dalam Semlok ini mengambil tema Revitalisasi Dakwah Kultural menuju Masyarakat Islam. Berbagai pandangan tentang tema tersebut disampaikan oleh nara sumber dari berbagai kalangan.

Antara lain, Ketua PP Muhammadiyah Sukriyanto AR, MHum, Prof Dr Munir Mulkhan, Dr. M. Damami, Dr M Nurhakim, dan Bupati Bojonegoro Suyoto.

Dalam pidato penutupan, Din memberikan empat catatan pada acara yang digelar Lembaga Kebudayaan UMM ini. Pertama, perlunya penyesuaian metodologi dakwah kultural di tengah-tengah masyarakat. Muhammadiyah, katanya, dikenal memiliki aktualisasi teologi yang terlampau keras karena ketegasan pada semangat purifikasi.

Hal ini berimplikasi pada nyaris ditolaknya seluruh unsur sinkretis di masyarakat.

“Muhammadiyah memang memiliki ketegasan ideologis, tetapi dakwah kutural harus memperhatikan sasaran, audiensnya, jangan sampai terjadi penolakan yang justru kontra produktif pada tujuan dakwah,” ungkap Din seraya mengutip sebuah hadits tentang pentingnya menyesuaikan tingkat pemahaman (kemampuan akal) masyarakat.

Kedua, Din mewanti-wanti jangan sampai ada kesan Muhammadiyah hendak membumi hanguskan budaya yang telah ada. Islam, menurutnya, adalah agama yang akomodatif. Banyak contoh cara ibadah Islam diambil dari cara ibadah kaum terdahulu yang di-Islamkan, termasuk cara solat, puasa bahkan ibadah haji.

“Muhammadiyah perlu sedikit agak rileks, tidak alergi pada budaya,” lanjutnya.

Ketiga, hendaknya dakwah kultural mengangkat local wisdom. “Muhammadiyah harus lebih akrab dengan budaya yang ada dalam masyarakat sebelum budaya itu diambil oleh orang lain,” saran Din.

Musik rap, misalnya, adalah budaya pop yang akrab dengan anak muda, tidak perlu dijauhi alih-alih dibuat isinya mengandung dakwah yang menggugah.

Terakhir, Din mengajak agar warga Muhammadiyah memanfaatkan dakwah menggunakan teknologi informasi. Pemanfaatan media mainstream maupun media sosial sangat penting untuk menjangkau kalangan masyarakat modern saat ini.

“Kita memiliki konten yang sangat bagus tetapi tidak pandai mengemasnya di media, sementara orang mengemas sangat bagus hal-hal yang sifatnya tidak penting lewat media massa melalui hiburan-hiburan,” tutur Din menyontohkan tayangan televisi saat ini.

Sebelumnya Semlok dibuka oleh rektor UMM, Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP. UMM, kata rektor, mendorong tumbuh kembangnya seni-budaya di kampus ini melalui berbagai cara. Salah satunya melalui pertunjukan-pertunjukan yang digelar baik oleh even organizer yang ada di bawah UPT UMM Dome maupun Lembaga Kebudayaan.

Khazanah budaya Islam yang kental diharapkan tumbuh sehingga warna karakter kampus ini semakin kuat.

Di akhir Semlok, Lembaga Kebudayaan UMM juga menyampaikan rekomendasi. Dalam resume hasil Semlok dipaparkan antara lain tentang problematika dakwah kultural yang masih belum diimplementasikan secara masif.

Menurut Ketua LK UMM, Dr Tri Sulistyoningsih, Muhammadiyah perlu melakukan kampanye dan kegiatan seni budaya dan olah raga secara lebih giat lagi.

“Warga Muhammadiyah harus enyadari pentingnya seni budaya dan olah raga sebagai sarana dakwah syiar yang efektif,” katanya.

Hal ini, kata Tri, sudah dilakukan oleh LK UMM dengan menggelar berbagai pertunjukan budaya bernuansa dakwah.

 

Penulis : Camaraderry Difa Pradana

Editor   : Putra Ismail

Comments are closed.