Dosen Ini Kembangkan Motor Hibrid untuk Sepeda Gowes

0

MEDIA MALANG – Dosen dari Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) berhasil membuat inovasi sepeda gowes berlistrik “E-Bike” (singkatan dari Electric Bicycle), yang bisa memudahkan pengguna.  Saat ini, mereka masih menyelesaikan pengerjaan E-Bike itu, namun ada sepeda yang sudah jadi dan sudah dimanfaatkan.

Empat dosen dari FT-UB itu adalah Soeprapto, Mahfudz Shidiq, Teguh Utomo, dan Unggul Wibawa. Mereka tergabung dalam tim dan mendapatkan dana pengabdian Iptek bagi Inovasi dan Kreativitas Kampus (IbIKK) dari Kemenristekdikti. Program tersebut bernama IbIKK Motor Hibrid pada Sepeda Gowes.

Selain keempat dosen dari Jurusan Teknik Elektro tersebut, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Merdeka Malang, Sari Yuniarti juga berperan dalam pengelolaan keuangan dan pengembangan bisnis.

Ketua tim pengabdian Soeprapto mengemukakan hampir semua komponen penyusun E-Bike didapatkan dari impor. Karena karakteristik komponen yang berbeda-beda, maka tim pengabdian mensinkronisasikan modul-modul elektronik supaya terakit sempurna pada sepeda gowes tersebut.

“Kegiatan ini menghasilkan produk sepeda gowes berlistrik “E-Bike”. Saat ini, produk yang sudah dihasilkan ada enam unit dan setelah usulan IbIKK didanai, ada dua produk lagi yang diluncurkan,” katanya dilansir teknik.ub.ac.id.

Ia menjelaskan, produk yang dihasilkan ada dua jenis. Yang pertama adalah tipe hub BLDC planetary dengan kapasitas 250 W (Watt) atau 350 W, dan tipe lainnya saat ini sedang dalam pengembangan dengan kapasitas lebih kecil, 146,5 W, yakni tipe Mini On.

Untuk tipe hub BLDC, komponen penyusunnya terdiri dari motor hub BLDC, kontroller, baterai pack lithium, Pedal Assistance Sensor (PAS), dan throttle. Baterai pack lithium bisa ditempatkan di bawah sadel atau di tempat minum. Dibandingkan baterai konvensional seperti VRLA, baterai ini lebih ringan dan terlihat lebih sporty.

Dosen Teknik Elektro itu menjelaskan, terdapat tiga sistem pada sepeda E-Bike, yakni full manual, hibrid, dan full electric.

Pada mode manual, sepeda akan dikayuh pengguna seperti biasa. Sedangkan pada mode hibrid, sensor PAS akan mendeteksi kecepatan putaran kayuhan pengguna untuk menentukan pengaktifan motor hub BLDC yang berfungsi mendorong sepeda gowes.

“Bila kecepatan sepeda lebih rendah dari kecepatan kayuhan, maka sepeda akan terdorong dan terasa lebih ringan. Tetapi bila kecepatan sepeda lebih cepat dari kecepatan kayuhan, maka tidak terjadi apa-apa,” terangnya.

Dengan sistem ini, jelas pengampu mata kuliah Elektronika Daya itu, dapat menghemat penggunaan baterai. Sementara pada mode full electric, sepeda tidak perlu dikayuh. Bila di gas, kecepatannya bisa mencapai 35-40 km/jam.

“Yang sering saya gunakan mode hibrid. Dengan kondisi jalan normal, bisa digunakan untuk jarak jangkauan sekitar 80 km. Bila baterai habis tinggal di charge,” ujarnya.

Kemudian, tipe yang saat ini masih dalam tahap pengembangan, tipe Mini On, menggunakan motor yang umumnya digunakan untuk pesawat mainan aeromodelling. Karena ukurannya yang mini, secara kasat mata mesin tidak tampak telah terpasang di sepeda.

Namun karena dayanya yang rendah, kemampuan jelajah tipe Mini ON tidak sejauh tipe hub BLDC. Kit ini menggunakan spesifikasi 22.2 Volt, 6.6 Ah dengan daya 146.5 W.

“Bila pengaturan pada gawai adalah 300 W, maka jarak tempuh akan pendek, maksimal 30 menit,” katanya.

Motor hibrid pada sepeda gowes, menurut dia, bisa ditempatkan pada penggerak depan atau penggerak belakang, tergantung selera pengguna. Dalam pengembangannya ke depan, E-Bike akan disambungkan dengan gadget android melalui bluetooth untuk sistem monitoring daya dan pengaturan kecepatan sepeda.

Pihaknya juga terbuka bagi masyarakat yang ingin memodifikasi sepeda gowes miliknya dengan motor hibrid. Nantinya, tim akan melakukan uji laik jalan sebelum diserahkan kembali ke pengguna.

Hal itu dilakukan, sebab ketika akan menempuh rute yang sangat menanjak, sebagian goweser lebih memilih untuk me-loading sepeda mereka dengan truk atau pick up menuju lokasi. Dengan adanya alat ini, harap Soeprapto, pengguna lebih terbantu dan tidak perlu lagi menggunakan cara tersebut. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor   : Puspito Hadi

Comments are closed.