Disinilah Titik Nol Kota Malang

0

MEDIA MALANG– Seperti halnya kota-kota lainnya, Malang juga memiliki patok menandakan nol kilometer bagi daerahnya menuju kota lain.

Namun, di Malang. Penanda jarak tempuh jalan raya itu ‘sembunyi’ dibawah jembatan penyeberangan depan Kantor Pajak Pratama Malang Selatan di Jalan Merdeka Selatan.

Lokasinya cukup sempit berada disisi tiang penyangga jembatan sebelah utara Alun-Alun Kota, sehingga sulit diketahui letaknya.

Apalagi banyak pedagang kaki lima serta becak parkir di depannya. Meski demikian, patok itu merupakan titik sejarah bagi Kota Malang.

Dimana sang pembuat ingin menunjukkan dimana awal mengukur jarak Kota Malang dengan kota lain.

Jika melihat bentuknya, patok tertera jumlah kilometer menuju kota lain itu pasti dibuat di masa penjajahan. Struktur batu bata besar meyakinkan dugaan tersebut.

Patok setinggi sekitar 90 centimeter itu mempunyai tiga sisi, bagian atas bertulis Baya (Surabaya) 89 menunjukkan jarak Surabaya sejauh 89 kilometer, dibawahnya pada sisi kanan tertulis Pw.Sari (Purwosari) 28 atau sejauh 28 kilometer, dan sisi kiri tertulis M.Lang 0.

Dua warna dibuat membedakan ketiga sisi itu, tulisan Baya bersama 89 berwarna biru dan dua sisi dibawahnya berwarna merah.

Entah apa maksud dari warna tersebut, begitu juga dengan tiga kota yang menjadi tempat dituju.

Bagi para pedagang kaki lima maupun tukang becak, keberadaan patok itu bukan hal langka bagi mereka.
Karena sudah setiap kali, mereka melihat dan bahkan biasa menjadi tempat mangkal.

Tapi sebagian besar warga kota pendidikan ini juga tak mengetahui lokasi patok nol itu.

Salah satunya Dwi Cahyono dosen sejarah di Universitas Negeri Malang ini sempat kaget saat mengetahui letak patok nol itu di utara Alun-Alun Merdeka.

Dia awalnya menduga, jika titik nol Kota Malang berada di kawasan Ijen, yang mana menjadi pusat pemerintahan di masa kolonial.

“Saya kira di sekitaran Ijen situ,” ucap Dwi Cahyono.Menurut Dwi, patok nol itu menunjukkan pusat kota, selain itu menentukan awal jarak menuju daerah atau kota lain.

“Kalau memang ditemukan disitu bisa menjadi informasi baru bagi masyarakat, disitulah Malang mulai dihitung dengan kota lain,” ujarnya.

 

 

Penulis : Putra Ismail
Editor : Laily Noor Hidayah

Comments are closed.