Viewed 6 Times

Buruh di Malang Unjuk Rasa Tolak Pekerja Asing

0

MEDIA MALANG – Ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja di Malang raya unjuk rasa, memperingati Hari Buruh, 1 Mei di depan Balai Kota Malang. Mereka menolak adanya pekerja asing, sebab berpetensi mempersulit tenaga lokal.

“Kami menolak Peraturan Presiden tentang Tenaga Kerja Asing (TKA),” Ketua Front Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) Malang Raya Lutfie Hafid mengungkapkan, dalam aksinya di Jalan Tugu Kota Malang, Selasa (1/5).

Pihaknya menilai, adanya tenaga kerja asing justru dinilai sebagai ancaman bagi pekerja lokal. Para pekerja khawatir, pekerja lokal justru lebih sulit mendapatkan pekerjaan.

“Kami khawatirkan kehadiran tenaga kerja asing akan mempersulit tenaga kerja lokal. Mereka memiliki skill lebih baik, ini ancaman bagi tenaga kerja lokal. Apalagi buruh saat ini sudah mulai kehilangan roh perjuangan,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Malang Raya, saat aksinya, yang juga menyorot isu pekerja asing.

“Kedatangan pekerja asing ke Indonesia akan mengakibatkan banyak buruh di-PHK, apalagi tenaga kerja lokal minta gaji naik,” kata Agus Muin, koordinator aksi.

Agus menilai, keberadaan tenaga asing justru bisa menekan posisi buruh. Buruh lokal akan semakin terpinggirkan bahkan menjadi korban.

Pihaknya mengungkapkan pemerintah belum membuat kebijakan yang pro terhadap buruh. Pemerintah dinilai justru memihak kepada para pengusaha dengan berbagai kebijakan yang dibuat.

Unjuk rasa itu dilakukan secara bergelombang yang diikuti sejumlah elemen serikat pekerja dan juga mahasiswa. Namun, isu yang mereka usung sama, menolak pekerja asing.

Sementara itu, Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri mengatakan, dalam aksi tersebut ada 700 personel yang diterjunkan sebagai pengamanan. Selama ini, aksi masih berjalan dengan tertib.

“Hingga saat ini aksi berlangsung aman dan tertib, tidak ada yang dikhawatirkan,” katanya.

Ia menambahkan, hingga kini, ada tiga kelompok yang memang telah menyampaikan pemberitahuan. Walaupun ada sejumlah kelompok yang aksi dengan isu sama, polisi tetap memisahkan massa peserta aksi dengan pagar berduri. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor : Puspito Hadi

Comments are closed.