Viewed 5 Times

Bulog Malang Optimalkan Penyerapan Beras

0

MEDIA MALANG – Perusahaan umum (Perum) Bulog Malang berupaya mengoptimalkan penyerapan gabah dan beras di sejumlah wilayah. Optimalisasi itu dilakukan dengan melakukan penerapan kebijakan pembelian beras dengan harga fleksibel.

Kepala Bulog Subdivre Malang Faizal Azhari Rambe mengemukakan Bulog terpaksa melakukan kebijakan tersebut, sebab saat ini kesulitan membeli harga gabah dan beras. Saat ini, harga gabah petani sudah menyentuh angka Rp.5.000 hingga Rp.5.400 per kilogram. Padahal, HPP yang diterapkan tidak sejumlah itu. Begitu juga dengan harga beras yang ternyata di pasaran naik.

“Perum Bulog juga kesulitan membeli harga beras medium di pasaran yang kini sudah mencapai Rp.8.600 – Rp.9000 per kg,” katanya kepada wartawan, Selasa (12/9).

Pemerintah saat ini menerapkan kebijakan pembelian gabah dan beras petani sebagai strategi baru menaikkan pasokan. Bulog menaikkan HPP sebesar 10 persen, sehingga untuk gabah kering panen (GKP) menjadi Rp4.070/kg dan beras kualitas medium menjadi Rp8.030/kg.

Kebijakan menaikkan HPP ini dengan harga fleksibel tersebut diberlakukan sejak 7 Agustus 2017. Kebijakan diharapkan bisa lebih mendongkrak pembelian, sehingga penyerapan beras juga diharapkan lebih besar.

Walaupun saat ini masih terkendala dengan penyerapan yang terbatas, Bulog Malang tetap berupaya mengoptimalkan penyerapan hasil panen. Saat ini, stok beras juga dalam kondisi aman sebanyak 13.400 ton. Stok tersebut cukup sampai Januari 2018, termasuk untuk kebutuhan penyaluran beras sejahtera.

Sampai saat ini, tambah Faizal, Perum Bulog baru menyerap 504 ton dari target 9.800 ton. Untuk mengoptimalkan penyerapan, Bulog membuat menggunakan skema fleksibilitas harga yang rencananya akan diberlakukan hingga 31 Desember 2017.

“Realisasi penyerapan kami baru 504 ton. Akibat kesulitan itu, beras dari mitra kerja yang masuk ke gudang Bulog rata-rata di bawah 50 ton per hari,” pungkasnya.

Sementara itu, sejumlah petani mengatakan kenaikan harga beras dan gabah memang sudah seharusnya dilakukan. Salah satunya diungkapkan oleh Arifin, salah seorang petani asal Kelurahan Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Ia mengatakan harga gabah dan beras setiap tahunnya selalu naik turun. Salah satu penyebabnya, karena ada persaingan dan permainan harga antara pedagang dan petani. Ia sangat berharap, pemerintah membuat kebijakan lebih pasti terkait dengan harga gabah dan beras.

“Harga gabah dan beras setiap tahunnya selalu naik turun. Namun, untuk petani jarang yang memahami tentang harga eceran tertinggi, patokannya selama ini pada pedagang, dan petani menjual gabah sebesar Rp.3.700 per kilogram dan beras di penggilingan Rp7.300 per kg,” tutupnya. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor  : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.