Viewed 55 Times

BPTP Duga Ada Kandungan Pupuk Tidak Sesuai di Label

0

MEDIA MALANG – Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, menduga kandungan yang ada di label sejumlah pupuk ada yang tidak sesuai dengan isinya, sehingga berpotensi memicu hasil produksi petani tidak bisa optimal.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jatim Badan Litbang Pertanian Kementan Chendy Tafakresnanto mengaku awalnya mendapatkan surat dari Bareskrim Polri untuk mengecek apakah pupuk yang beredar di masyarakat asli atau tidak.

“Kami sudah cek, tapi masalah palsu silakan ke Bareskrim,” katanya pada wartawan, Selasa (7/11).

Ia mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan jenis pupuk yang diduga bermasalah adalah phonska, petroganik. Ternyata, ada dugaan bahwa kandungan tidak sesuai dengan isi di label. Akibatnya, produksi tanaman tidak bisa optimal.

Ia juga menduga, ketidaksesuaian antara kandungan pupuk di label dan yang semestinya salah satunya dimungkinkan karena ada yang ingin menjatuhkan pertanian di Indonesia. “Ada indikasi bahwa banyak agen pupuk terutama di Jatim yang sudah bekerjasama dengan pihak lain yang ingin menjatuhkan pertanian,” katanya.

Pemerintah, kata dia, sudah menggelontorkan cukup banyak dana untuk subsidi petani. Pada 2017, subdisi diberikan hingga senilai Rp.28 triliun.

Selain subsidi, pemerintah juga membuat beragam inovasi teknologi tapi juga menemukan berbagai varietas terbaru. Dengan itu, diharapkan tidak terjadi gap produksi, sehingga pertanain bisa dikelola dengan lebih maju.

“Sekarang terjadi gap produksi. Tentuya, ke depan arahnya pertanian modern, dalam arti produknya tinggi, biaya murah. Percuma produk 12 ton tapi produksi 10 ton. Mending produk 11 ton, biaya 6 ton, jadi sekitar 5 ton hasil produksinya,” ujarnya menjelaskan.

Di Jatim, untuk pertanian juga dimanajemen dengan lebih baik, misalnya daerah Madura, mataraman, Osing (Banyuwangi), dan pesisir. Pola penyuluan pertanian di tempat tersebut berbeda. Misalnya, petani Madura lebih senang tanam jagung jenis biasa, tapi sulit jika diminta pindah ke jenis hibriba. Padahal, produksi jagung mereka hanya sekitar 2 ton per hektare, tapi jika ditanam dengan jenis hibrida di Sumenep bisa dapat 9 ton per hektare.

Untuk itu, kata dia, salah satu masalah yang harus dipecahkan adalah pendampingan teknologi. Input dan output harus diperbaiki. Untuk input dalam arti benih, pupuk, ataukah masalah harga. Sedangkan, masalah output adalah kesiapan pengelolaan.

Ia berharap, dengan manajemen lebih baik, ke depan produksi pertanian akan semakin lebih baik, khususnya di Jatim. “Jatim itu penopang bangan terbesar. Lahan sawah ada 1,1 juta hektare, dengan produksi 6,5 ton per hektare dan ini surplus. Ini sisanya dibawa ke NTT, Sulawesi, Kalimantan. Jatim itu indikator, barometer pertanian padi di Indonesi,” ujarnya. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

EditorĀ  : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.