Viewed 4 Times

BNPB: Gunung Agung Alami Letusan Freatik

0

MEDIA MALANG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa Gunung Agung di Bali, telah erupsi pada Selasa (21/11) pukul 17:05 WITA. Letusan itu termasuk letusan jenis freatik, dengan tinggi asap kelabu tebal dengan tekanan sedang maksimum 700 meter.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengemukakan, letusan freatik terjadi akibat adanya uap air bertekanan tinggi. Uap air tersebut terbentuk seiring dengan pemanasan air bawah tanah atau air hujan yang meresap ke dalam tanah di dalam kawah kemudian kontak langsung dengan magma. Letusan freatik disertai dengan asap, abu dan material yang ada di dalam kawah.

“Letusan freatik sulit diprediksi. Bisa terjadi tiba-tiba dan seringkali tidak ada tanda-tanda adanya peningkatan kegempaan,” katanya dalam rilis yang diterima, Selasa.

Ia mengemukakan, beberapa kali gunung api di Indonesia letusan freatik saat status gunung api tersebut Waspada (level 2) seperti letusan Gunung Dempo, Gunung Dieng, Gunung Marapi, Gunung Gamalama, Gunung Merapi dan lainnya. Tinggi letusan freaktik juga bervariasi, bahkan bisa mencapai 3.000 meter tergantuk dari kekuatan uap airnya.

“Jadi letusan freatik gunung api bukan sesuatu yang aneh jika status gunung api tersebut di atas normal. Biasanya dampak letusan adalah hujan abu, pasir atau kerikil di sekitar gunung,” jelasnya.

Sutopo menambahkan, memang letusan freatik tidak terlalu membahayakan dibandingkan letusan magmatik. Letusan freatik dapat berdiri sendiri tanpa erupsi magmatik. Namun letusan freatik bisa juga menjadi peristiwa yang mengawali episode letusan sebuah gunung api. Misalnya Gunung Sinabung, letusan freatik yang berlangsung dari tahun 2010 hingga awal 2013 adalah menjadi pendahulu dari letusan magmatik. Letusan freatik Gunung Sinabung berlangsung lama sebelum diikuti letusan magmatik yang berlangsung akhir 2013 hingga sekarang.

Letusan magmatik merupakan letusan yang disebabkan oleh magma dalam gunung api. Letusan magmatik ada tanda-tandanya, terukur dan bisa dipelajari ketika akan meletus.

Ia mengakui, memang pemahaman masyarakat masih cukup terbatas mengenai gunung api. “Kita memiliki 127 gunung api aktif yang masing-masing gunung memiliki watak berbeda-beda. Yang penting masyarakat mematuhi rekomendasi dari PVMBG. Iptek dikombinasikan dengan kearifan lokal setempat dapat efektif menyelamatkan masyarakat sekitar,” paparnya.

Hingga kini, status Gunung Agung hingga tetap Siaga (level 3) dan tidak ada peningkatan status. PVMBG juga terus melakukan pemantauan dan analisis aktivitas vulkanik. Untuk gempa tremor menerus mulai terdeteksi.
“Rekomendasi juga tetap radius 6-7,5 km dari puncak kawah tidak boleh ada aktivitas masyarakat. Data pengungsi pada Selasa siang tadi sebanyak 29.245 jiwa yang tersebar di 278 titik pengungsian,” katanya.

Ia memperkirakan, jumlah pengungsi ini akan bertambah mengingat warga Dusun Bantas, Desa Abaturinggit sudah turun menjauh dari radius 7.5 km ke Kantor Camat Kubu. Warga Dusun Juntal Kaje rencana malam ini juga turun ke balai-balai banjar yang ada di Desa Kubu. Begitu juga warga dukuh juga sudah bersiap-siap untuk mencari tempat yang lebih aman.

Ia meminta masyarakat tetap tenang serta tidak panik dan terpancing isu-isu menyesatkan. “PVMBG akan terus memberikan informasi terkini. BNPB, TNI, Polri, Basarnas, BPBD, SKPD, relawan dan semua unsur terkait akan memberikan penanganan pengungsi,” jelas dia.

Sementara itu, untuk saat ini kondisi Bali tetap aman. Bahkan, Bandara Internasional Ngurah Rai juga masih aman dan normal termasuk pariwisata di Bali juga masih aman, selain di radius berbahaya di sekitar Gunung Agung yang ditetapkan PVMBG yang memang tidak boleh ada aktivitas masyarakat. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.