Viewed 52 Times

Batu Prasasti Makam Gus Dur Berusia Ribuan Tahun

0

MEDIA MALANG – Batu prasasti di makam mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid, di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, dibuka untuk umum. Prasasti tersebut terbuat dari batu istimewa langka yang usianya diperkirakan lebih dari ribuan tahun.

Zannuba Arifah Chafsoh, putri almarhum Gus Dur mengatakan keluarga memutuskan untuk membuka prasasti tersebut. Peresmian dilakukan secara sederhana dengan keluarga di areal makam. “Hanya tahlilan bersama keluarga dan beberapa teman dekat Gus Dur,” katanya, dalam rilis yang diterima, Minggu.

Ia menambahkan, proses pembuatan sudah disiapkan sekitar satu tahun. Prasasi itu sebenarnya sudah dipasang sejak 21 Juni 2017, tapi selama ini masih ditutupi selubung kain putih. Di prasasti itu berisi pesan yang pernah disampaikan Gus Dur semasa hidup. Sebelum meninggal, Gus Dur ingin di makamnya ditulisi “Di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan”. Pesan tersebut baru bisa terealisasi setelah hampir sewindu Gus Dur wafat.

Sementara itu, tulisan dari pesan tersebut juga dibuat dalam empat bahasa, yaitu, Bahasa Indonesia, Arab, Inggris dan Tiongkok. Keputusan itu diambil sebagai penggambaran sosok Gus Dur. “Itu untuk menggambarkan universalitas sosok Gus Dur,” ujarnya.

Prasasti di makam tersebut berukuran 115 x 60 sentimeter dengan tinggi 45 sentimeter. Bahan prasasti dari batu istimewa yang diperkirakan berusia ribuan tahun.

Untuk batu besarnya adalah Verde Patricia, marmer hijau yang berasal dari India. Di tengahnya terdapat onyx hijau yang berasal dari Persia. Sementara, tulisan yang berisi pesan Gus Dur dalam empat bahasa dipasang di Statuario, yang merupakan batu marmer dari Italia.

Peresmian tersebut dilakukan secara langsung oleh istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Ia didampingi dua anaknya yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh (Alissa) dan Yenny Wahid. Selain itu, beberapa keluarga dan orang dekat Gus Dur seperti Ngatawi Al-Zastrow, serta sejumlah pengasuh pondok juga hadir.

Gus Dur yang juga mantan Presiden tersebut meninggal dunia pada 30 Desember 2009. Jenazahnya dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga, Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, satu lokasi dengan makam kakeknya, KH Hasjim Asy’ari yang merupakan pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama serta ayahandanya KH Wahid Hasjim, yang juga tokoh negara. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

Editor  : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.