Ayu Siswi, Pelajar yang Tak Malu Jualan Cilok hingga Juru Parkir

0

KARANGANYAR, MEDIAMALANG.COM – Generasi muda zaman sekarang tak selalu lekat dengan gaya hidup yang serba mudah dan sibuk membangun eksistensi di dunia maya. Sebuah kisah inspiratif bisa kita petik dari pengalaman Ida Ayu Riski Susilowati, siswi kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan Bhakti Karya Karanganyar.

Sembari bersekolah, Ayu Riski mengayuh sepeda yang memuat dagangan berupa cilok atau aci dicolok. Ayu Riski adalah seorang yatim, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Ayah Ayu Riski, Sukirno meninggal dua tahun lalu. Sebelumnya dia tinggal bersama ibunya, Sumiyati, yang bekerja sebagai penjual makanan di Bekasi, Jawa Barat.

Setelah menamatkan pendidikan di sekolah menengah pertama di Bekasi, Ayu Riski memilih tinggal bersama neneknya di Karanganyar. Malang, neneknya belum lama ini meninggal. “Belum ada 100 hari,” kata Ayu Riski, Rabu 24 Oktober 2018. Sekarang dia harus bertahan hidup sendiri, terlebih salah satu adiknya juga ikut tinggal di Karanganyar dan menempuh pendidikan yang sama.

Demi membayai hidupnya bersama seorang adik, Ayu Riski tak malu berjualan cilok di sekolah. Ayu Riski memilih berjualan cilok karena mudah dibuat, praktis, dan disukai anak-anak sekolah. Makanan serupa bakso itu dibuat sejak dinihari. Cilok yang sudah matang diletakkan di dalam dandang dan dimasukkan ke keranjang belakang sepedanya. Tidak lupa dia harus menaruh arang membara di bawah dandang agar cilok selalu hangat.

Ayu Riski belum lama berjualan cilok di sekolah. “Baru beberapa bulan, saat masuk kelas XII,” katanya. Namun dia sudah terbiasa mencari uang sejak pindah ke Karanganyar 2 tahun lalu. “Dulu pernah usaha sol sepatu keliling,” katanya. Kebetulan, dia memiliki keterampilan memperbaiki sepatu dari mendiang ayahnya. Namun hasil dari usahanya itu sangat minim.

Ayu Riski kemudian banting setir menjadi juru parkir, terutama saat libur akhir pekan. “Kebetulan punya kenalan beberapa koordinator parkir,” katanya. Hanya saja, pekerjaan itu tidak bisa dilakukan setiap hari sehingga tak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. (*)

Editor : Puspito Hadi

Sumber : tempo.co

Comments are closed.