Viewed 2 Times

Alami Penjarahan, PTPN XII Rugi Rp.3,4 Miliar

0

MEDIA MALANG – Insiden penjarahan terjadi di kebun karet milik PTPN XII Pancursari Desa Tegal Rejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Akibatnya, perkebunan mengalami kerugian hingga Rp.3,4 miliar.

Manager Kebun Pancursari PTPN XII Hendrianto mengemukakan penjarahan itu terjadi dilakukan sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab. Sebelumya, perkebunan menjalin kemitraan dengan warga di sekitar perkebunan mulai 2014 hingga 2017, namun di tengah perjalanan terjadi wanprestasi.

Perusakan itu terjadi pada Januari dan 25 September 2017. Tercatat ada sekitar 16 ribu pohon senilai Rp.3,4 miliar dirusak dan dibakar.

“Ada 16 ribu hektare lebih lahan tanaman karet yang dirusak dan dibakar warga dan kami mengalami kerugian hingga Rp.3,4 miliar. Dengan insiden itu kami membuat laporan ke Polres Malang,” ujarnya.

Sementara itu, warga membantah tuduhan perusakan tersebut. Bahkan, mereka akan melaporkan tuduhan itu ke Presiden Jokowi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Perwakilan dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tegalrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Buimin mengatakan pemerintah desa sudah membuat surat terkait permasalahan sewa lahan garapan dengan PTPN XII Kebun Pancursari tersebut. Surat itu ditandatangani oleh BPD dan Kepala Desa Ari Ismanto.

“Kami akan mengadukan masalah ini. Kami juga akan berjalan kaki ke Istan mengadukan masalah ini pada Presiden Jokowi dan KPK,” ujar Buimin.

Ia menjelaskan, awalnya memang ada kerja sama usaha (KSU) dari manajemen Kebun Pancursari PTPN XII dengan warga, yaitu warga dibolehkan menyewa lahan melalui pemerintah desa. Saat itu, Kades Ari Ismanto sebagai penjamin warga.

Warga sebagai penyewa lahan diwajibkan membayar Rp.8 juta per hehktare ke PTPN melalui kades selama satu tahun dan setelahnya bisa diperpanjang lagi. Ada sebanyak 750 warga sebagai penyewa dengan beragam tanaman misalnya tebu, ketela pohon dan pisang. Namun, hasil panen tidak sesuai yang diharapkan, sebagai dampak cuaca yang tidak menentu, sehingga berimbas penurunan hasil panen.

Setelah itu, warga berniat memperpanjang sewa, tapi ditolak pihak perkebunan. walauun ditolak, warga tetap nekat, sebab berharap balik modal. Selama menggarap lahan, modal yang dikeluarkan tidak sedikit, bahkan ada yang hingga puluhan juta.

“Kami hanya ingin mempertahankan diri. Semu sudah habis untuk modal menggarap lahan,” kata Buimin sedih.

Hingga kini, perkara tersebut belum tuntas. Warga berharap, dari aduan itu nantinya menjadi perhatian Presiden, sehingga warga di sekitar kebun bisa mendapatkan penghasilan. (*)

Penulis : Didik Fibrianto

EditorĀ  : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Comments are closed.