Viewed 1,175 Times

Ada 15 Cerita Dengan 76 Karakter Topeng Malangan

1093

MEDIA MALANG – Topeng Malangan karya Sang Maestro Mbah Karimun wafat 2010 lalu, memiliki 76 karakter yang dibagi menjadi empat kelompok. Pertama kelompok tokoh baik, ditunjukkan dengan ukiran pada kayu, mata bagus dan wajah tersenyum. Seperti Raden Panji.

Kelompok kedua adalah tokoh antogonis dengan wajah seram dan mata menonjol. Sabrang, Butho Cakil menjadi salah satunya figurnya. Kelompok ketiga, yakni abdi atau pembantu. Adalah Demang Mondhes dan Monduko. Mereka memiliki wajah lucu yang ditampikan pada guratan ukiran topeng. Terakhir topeng kelompok hewan, diantaranya nogo taon, laler ijo, dan celeng.

“Empat kelompok itu akan ada setiap ditampilkan dalam sebuah tarian yang bercerita,” ucap Handoyo cucu dari sang maestro bercerita. Handoyo menyebut, ada 15 cerita disuguhkan dalam tari topeng malangan. Kesemuanya cerita itu berlatar belakang dari kisah kehidupan rakyat jaman dahulu. Diantaranya, sayembara sodo lanang, jengkolo mbangun candi. “Setiap tari melibatkan 20 sampai 30 orang. Untuk memainkan gamelan dan penarinya,” ungkap Handoyo.

Secara rutin padepokan Seni Topeng Asmorobangun menggelar pementasan di malam Senin Legi disebut Gebyak Malam Senin Legi. Kegiatan itu, diakui, untuk mempertahankan dan mengenalkan seni budaya asli Malang. Selain itu, Handoyo bersama keluarga Mbah Karimun Sang Maestro topeng malangan, hanya mengandalkan pesanan. Agar warisan budaya itu tetap dikenal khalayak.

“Ya biasanya ada yang pesan. Tamu dari luar negeri dan lembaga pendidikan yang miliki pendidikan untuk tari,” tutur Handoyo. Untuk membuat satu topeng saja, Handoyo dan pekerjanya butuh waktu 3 hari. Topeng dibuat dari kayu sengon dan dijual variatif mulai Rp 100 ribu sampai sejuta hanya untuk satu topeng.

Apa yang membuatnya begitu?. Handoyo menjawab, jenis ukiran dan tampilan topeng yang bagus. “Kalau yang istimewa bisa sejuta,” jawabnya. Sulitnya mencari bahan baku kayu, juga menjadi masalah bagi Handoyo. Karenanya dirinya tak berani berspekulasi memproduksi dengan jumlah banyak.

Di sanggar yang dimilikinya, Handoyo juga menyewakan topeng seharga Rp 35 ribu dan kostum Rp 50 ribu. Penyewanya bisa langsung belajar bagaimana menarikan topeng malangan. “Kami juga sewakan beserta kostumnya,” tutur Handoyo. Dirinya mengaku, banyak order jika memang diseriusi.

Namun, berbagai kendala harus dilalui, karena selama ini Handoyo bersama keluarga hanya mengandalkan kocek pribadi tanpa bantuan pihak luar. “Topeng ini sampai luar negeri dengan usaha kita pribadi untuk promo,” aku dia.

Handoyo memiliki cita-cita agar topeng malang tak tergerus jaman. Dengan memberikan pelajaran kepada anak-anak sekolah. Baik mulai cara membuat topeng hingga menampilkannya di depan penonton.

Sejumlah lembaga pendidikan sudah berkeinginan menyukseskan impian Handoyo. Salah satunya, Universitas Negeri Malang. Hampir rutin perguruan tinggi itu membawa mahasiswanya belajar tari topeng malangan di sanggar Handoyo. “Ada program ajarkan kepada anak-anak. Untuk kelestarian kesenian ini,” tegas dia. Handoyo tengah memikirkan konsep mempromosikan topeng malangan ke seluruh penjuru dunia. Usaha itu harus dilakukannya sendiri, karena sampai kini belum ada perhatian dari dinas terkait.

 

Penulis : Putra Ismail

Editor : Puspito Hadi

Komentar Anda

Komentar

Leave A Reply