3,5 Tahun Indonesia Berjuang Rebut Tambang Dari Freeport

0

MEDIA MALANG – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkap bahwa dalam 3,5 tahun terakhir pemerintahannya berjuang keras namun tanpa banyak publikasi untuk merebut kembali penguasaan atas tambang Grasberg di Papua yang selama puluhan tahun dikendalikan oleh Freeport McMoran melalui anak perusahaannya PT Freeport Indonesia.

Tambang Grasberg adalah lahan produksi tembaga terbesar kedua di dunia setelah tambang Escondida yang berada di Chile.

“Seperti kita ketahui Freeport Indonesia ini telah mengelola tambang di Papua hampir 50 tahun dengan porsi kepemilikan kita hanya 9,36 persen. Inilah, 3,5 tahun ini yang kita usahakan sangat alot — jangan dipikir mudah — sangat alot 3,5 tahun dan begitu sangat intens sekali dalam 1,5 tahun ini,” kata Presiden di sela kunjungannya di peringatan Hari Koperasi Nasional ke-71 yang digelar di ICE, Tangerang, Kamis (12/7).

Presiden menambahkan bahwa perjuangan itu dilakukan tanpa banyak gembar-gembor karena tujuannya adalah mengamankan kepentingan nasional.

“Karena ini menyangkut sebuah negosiasi yang tidak mudah. Menurut saya ini adalah sebuah lompatan,” kata Presiden.

Hasilnya, pada hari yang sama di Jakarta, BUMN tambang PT Inalum (persero) menandatangani perjanjian pokok (heads of agreement) dengan Freeport McMoran untuk pembelian 51% saham PT Freeport Indonesia senilai US$ 3,85 miliar yang ditargetkan tuntas dalam dua bulan ke depan.

“Kita harapkan nanti kita akan mendapatkan income yang lebih besar baik dari pajak, dari royalty-nya, dari devidennya, dari retribusinya, sehingga nilai tambah dari komoditas tambang yang ada di sana itu betul-betul bisa dinikmati oleh kita semuanya,” kata Presiden.

“Kepentingan nasional apa pun tetap harus dinomorsatukan.”

Menurut laporan keuangan 2017, PT Freeport Indonesia memiliki cadangan terbukti (proven) dan cadangan terkira (probable) tembaga sebesar 38,8 miliar pound, emas 33,9 juta toz (troy ounce), dan perak 153,1 juta toz.

Pendapatan PTFI 2017 sebesar US$ 4,4 miliar, naik dari US$ 3,3 miliar tahun sebelumnya, dengan laba US$ 1,28 miliar dari sebelumnya hanya US$ 579 juta. (*)

Editor : Puspito Hadi

Sumber : beritasatu.com

Comments are closed.