Viewed 6 Times

Berbagi Masakan Rumah via Aplikasi

0

MEDIA MALANG – Bisnis kuliner tanah air terus berkembang. Kekayaan kuliner nusantara membuat pelaku
usaha kuliner di tiap daerah terus berinovasi. Pelaku usaha kuliner baru pun terus bermunculan membawa
menu-menu baru. Cita rasa tradisional sering dipadukan dengan cita rasa masa kini atau yang lebih
sering disebut cita rasa fusion.

Perkembangan bisnis kuliner lokal yang makin pesat tentu tak lepas dari gencarnya promosi lewat
berbagai acara maupun bazar kuliner nusantara. Seiring berkembangnya teknologi, kini, promosi bisnis
kuliner lokal bisa melalui aplikasi. Berawal dari fasilitas layanan pesan-antar makanan yang disediakan
oleh salah satu perusahaan ojek daring. Saat ini, layanan pesan-antar makanan berbasis aplikasi terus
bertambah.

Salah satu aplikasi layanan pesan-antar makanan yang baru-baru ini jadi perbincangan masyarakat adalah
Madhang.id. Startup berbasis aplikasi ini besutan tujuh anak muda asal Jawa Tengah yang berpusat di
Semarang. Tak tanggung-tanggung, anak bungsu Presiden Jokowi pun ikut terjun langsung mendirikan dan
mengembangkan Madhang.id.

“Mas Kaesang itu salah satu founder juga, tapi fokus untuk marketing dan promosi Madhang.id. Karena jam
terbang dan kesibukan Mas Kaesang padat, tidak memungkinkan untuk jadi CEO,” tutur Maulana Bayu, co-
founder sekaligus CEO Madhang.id.

Resmi berdiri sejak akhir tahun 2017, Maulana menjelaskan, ide awal mendirikan Madhang.id datang dari
masakan yang sering tersaji di meja makan tiap rumah atau yang sering disebut makanan rumahan. Ia
mengatakan jika tiap rumah memiliki resep keluarga otentik turun temurun yang biasanya hanya bisa
dinikmati di kalangan keluarga saja.

“Awalnya, kami berpikir tiap ibu rumah tangga pasti punya masakan yang selalu ditunggu-tunggu oleh anak
dan suaminya. Bahkan ada resep masakan keluarga turun-temurun. Nah, makanan itu biasanya hanya bisa
dirasakan oleh keluarganya saja. Lewat Madhang.id, para ibu sekarang bisa menjual masakannya itu,”
jelas Maulana.

Makanan rumahan, bukan gerai besar

Ia menjelaskan, setiap orang yang ingin memulai bisnis kuliner lewat Madhang.id tidak perlu lebih dulu
memiliki kedai atau rumah makan. Cukup bermodalkan dapur yang biasa digunakan untuk memasak sehari-hari
dan resep masakan andalan ala rumah. Dan yang pasti, para ibu tidak perlu meninggalkan rumah dan anak
untuk memulai bisnis kuliner, semua transaksi bisa dilakukan di rumah.

“Buat ibu-ibu yang hobi masak dan ingin memulai bisnis tidak perlu repot harus punya pegawai atau
warung lebih dulu, apalagi sampai meninggalkan anak. Sambil menerima pesanan dan memasak, para ibu bisa
tetap ngurus anaknya di rumah. Ibaratnya bisa punya warung makan digital lah,” kata Maulana.

Cara mendaftar menjadi mitra Madhang.id pun cukup mudah. Para calon mitra hanya perlu mengunggah kartu
identitas, biasanya berupa KTP. Kemudian setelah identitas diverifikasi oleh tim Madhang.id, calon
mitra juga wajib mengunggah swa foto (selfie) dengan kartu identitas miliknya.

Setelah seluruh proses sudah diverifikasi dan dinyatakan berhasil mendaftar oleh tim Madhang.id, mitra
bisa langsung mengatur akunnya lewat Madhang.id. Mitra juga bisa langsung mengunggah menu yang
ditawarkan beserta harganya.

Meski belum setahun berdiri, per April 2018, Madhang.id tercatat, telah memiliki 20.000 mitra yang
tersebar di berbagai kota seperti Semarang, Jabodetabek, Jogja, Solo, Palembang, Lampung dan Makassar.
Maulana mengungkapkan bahwa pada awalnya, Madhang.id ingin fokus menggarap pasar Semarang dan
sekitarnya lebih dulu. Namun, pada saat launching aplikasi Madhang.id, Maulana menilai respon
masyarakat sangat luar biasa, sehingga banyak orang dari luar Semarang tertarik untuk menjadi mitra
Madhang.id.

“Niat awalnya mau fokus dulu di Semarang. Nah, tapi pas Mas Kaesang launching awal tahun ini dan waktu
itu ngundang media juga, jadi banyak orang yang tertarik mau gabung. Ya kami perbolehkan saja, masak
mau ditolak, aplikasi ini kan juga bisa digunakan dimanapun,” katanya sambil tertawa.

Menggunakan motto dan tagline “Your Local Food Heroes”, Madhang.id fokus menggarap makanan-makanan
lokal, khususnya makanan ala rumahan. Maulana bilang, Madhang.id menyediakan pasar khusus pengusaha
kuliner kelas UMKM, baik pemula maupun yang sudah jalan beberapa tahun. “Madhang.id tidak menggarap
pasar kuliner yang gerainya sudah besar, misal seperti fastfood. Kami tidak main di pasar itu,”
ungkapnya.

Sediakan aneka fitur pendukung

Selain itu, berbeda dengan aplikasi pesan-antar lainnya, Madhang.id menyediakan fitur pre-order. Fitur
pre-order ini dianggap menguntungkan mitra karena mitra bisa menyediakan menu seasonal atau menu khusus
di saat tertentu.

“Dengan fitur pre-order, misalnya ada mitra yang dia mau jual menu tertentu, bisa buka pesanan dulu.
Mitra sendiri juga yang menentukan kapan menu tersebut mau dibuat dan diantar,” jelas Maulana.

Tak hanya mitra yang bisa menentukan waktu mengantar dan membuat pesanan, dengan aplikasi Madhang.id,
para konsumen juga dapat diuntungkan dengan fitur pengaturan waktu. Fitur tersebut berguna untuk
mengatur kapan pesanan makanan ingin diantar.

“Misalnya ada konsumen mau pesan tumpeng, tapi masih lima hari lagi. Lewat aplikasi Madhang.id
disediakan tanggal dan jam berapa pesanan tumpeng itu mau diantar. Jadi konsumen bisa pesan makanan
seminggu sebelum harinya,” tandas Maulana.

Tak hanya menerima pesanan dari individu, sejumlah mitra Madhang.id juga menyediakan layanan pesanan
katering untuk instansi, lembaga atau perusahaan. Maulana bilang layanan katering ini juga jadi salah
satu fitur unggulan Madhang.id. Layanan katering ini dianggap bisa memperluas pilihan bagi perusahaan
atau lembaga.
Tarif aplikasi

Untuk harga makanan, sama dengan aplikasi pesan-antar lainnya, Maulana menjelaskan tiap porsi makanan
dikenakan biaya aplikasi. Harga makanan di bawah atau sama dengan Rp 5.000 akan dikenakan kenaikan
tarif Rp 500 per porsi, harga makanan antara Rp 5.000–Rp 20.000 dikenakan kenaikan tarif Rp 1.000 per
porsi dan harga makanan di atas Rp 20.000, kenaikan tarifnya Rp 2.000 per porsi.

“Sama seperti aplikasi lain yang harga makanan lebih mahal, kalau lewat aplikasi. Madhang.id juga ada
kenaikan tarif, tapi kami pakai tarif flat, semacam pajaknya, tapi bukan pakai persenan dari harga
makanan,” tutur Maulana.

Madhang.id juga menyediakan pilihan fasilitas pengantaran makanan. Ada tiga pilihan pengantaran, yakni
sistem COD (cash on delievery), diantar langsung oleh mitra dan kerjasama dengan Grab. Maulana lanjut
menjelaskan, beberapa kota besar, khususnya di Pulau Jawa, Madhang.id sudah bekerjasama dengan Grab
Indonesia untuk pengantaran makanan.

“Untuk sementara, layanan pengantaran yang sudah kerjasama dengan Grab ada di Semarang, Jabodetabek,
Solo dan Jogja. Kota lain bakal menyusul secepatnya. Lalu untuk sistem pembayarannya, kami kerjasama
dengan Paytren,” terang Maulana.

Meski baru saja diluncurkan, Maulana optimis aplikasi Madhang.id bakal terus berkembang. Saat ini, tim
Madhang.id terus melakukan promosi agar aplikasi Madhang.id segera dikenal masyarakat dan digunakan.
Selain itu, tim Madhang.id juga membantu mitra mendapatkan pasar, caranya dengan menyebarkan penawaran
katering ke instansi, lembaga, perusahaan maupun kampus-kampus.

“Kami masih terus gencar promosi, yang di Semarang sudah jalan untuk penawaran katering ke kampus-
kampus sama perusahaan. Tahun ini kami fokus dulu di Semarang. Dalam waktu dekat, kami juga bakal promo
di Palembang, sekalian bareng event Asian Games 2018,” ungkap Maulana.

Ia mengaku mendapatkan modal ventura dari sebuah perusahaan di Singapura. Namun Maulana enggan
menyebutkan nama perusahaan tersebut. Ke depannya, Madhang.id memasang target bisa mencapai 100.000
mitra. Selain itu, makin memperluas jaringan di kota-kota besar lainnya.

Bisa berkembang asal garap pasar baru

Pengamat telekomunikasi dan Start Up dari Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi berpendapat aplikasi
layanan pesan-antar makanan sejenis Madhang.id sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Ini artinya
Madhang.id bukanlah aplikasi layanan pesan-antar makanan pertama di Indonesia. Meski bukan tergolong
pioneer aplikasi pesan-antar makanan, bukan berarti Madhang.id kehilangan kesempatan dan tidak mendapat
pasar.

Heru mengatakan, pasar untuk aplikasi serupa masih luas. Meski ada dua perusahaan besar, seperti Grab
Indonesia lewat Grab Food dan Go-Jek lewat Go-Food yang turut membesarkan kemudahan dalam memesan
makanan, Madhang.id tetap punya kesempatan untuk berkembang.

Kuncinya adalah Madhang.id bisa menggarap pasar kuliner yang belum digarap oleh Grab Food dan Go-Food.
Menurut Heru, awalnya memang Grab Food dan Go-Food yang mempopulerkan pada masyarakat layanan pesan-
antar makanan lewat aplikasi.

“Tapi Madhang.id punya kesempatan juga untuk berkembang selama mau dan mampu menggarap pasar yang
berbeda dengan kedua aplikasi tersebut,” jelas Heru.

Ia menambahkan, jika ingin terus berkembang dan bertahan dalam persaingan, Madhang.id harus memperkuat
ekosistem bisnisnya. Eksosistem bisnis yang dimaksud adalah mulai dari mitra, fitur yang ditawarkan, IT
support sampai strategi pemasarannya. Heru pun optimis jika aplikasi Madhang.id bisa terus berkembang
dan tidak mengalami kesulitan dalam promosinya, mengingat salah satu founder Madhang.id adalah putra
bungsu Presiden Jokowi, yakni Kaesang Pangarep.

“Kalau untuk promosi, saya rasa tidak bakal kesulitan. Mirip dengan Markobar, nama besar Presiden
Jokowi tentu punya pengaruh juga. Sekarang tinggal bagaimana Madhang.id terus memperkuat ekosistem
bisnisnya untuk bersaing di lapangan dengan aplikasi serupa,” pungkas Heru. (*)

Editor : Puspito Hadi

Sumber : kontan.co.d

Comments are closed.